Magetan,seputarjatim.co.id – Kabupaten Magetan kembali dilingkupi atmosfer spiritual dan kultural yang kental. Perhelatan tahunan Jaya Jayaning Nuswantara ke-6 Tahun 2026 sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata masyarakat setempat. Agenda ini tidak sekadar menjadi tontonan seni, melainkan wadah kolektif untuk melestarikan tradisi leluhur sekaligus melantunkan doa keselamatan bagi warga Bumi Mageti.

Ritual adat yang sarat akan filosofi Jawa ini mengambil titik awal dari Pendopo Surya Graha dan bergerak menuju Alun-alun Magetan. Berbagai ruas jalan protokol di pusat kota dipadati oleh barisan peserta yang mengikuti prosesi Lampah Hastungkara, doa lintas elemen, penyucian (jamasan) pusaka, hingga puncaknya yaitu pembagian Berkah Bolu Rahayu.
Sepanjang rute kirab, suasana khidmat begitu terasa. Para peserta menunjukkan laku spiritual yang beragam; sebagian berjalan kaki dalam keheningan total (laku topo bisu), sebagian mengumandangkan seloka atau kidung Jawa, dan sebagian lagi mengarak benda pusaka. Keunikan kirab kian lengkap dengan dihadirkannya gunungan miniatur bolu yang dibentuk menyerupai lesung, bedug, serta susunan sego golong.
Titik puncak dari rangkaian ritual ini berlangsung di kawasan Alun-alun Magetan, di mana prosesi jamasan terhadap pusaka daerah, Kyai Pandhawa Naraagung, digelar. Prosesi pembersihan senjata pusaka tersebut memanfaatkan air suci yang diambil langsung dari tujuh mata air keramat di wilayah Magetan. Selama penjamasan, atmosfer makin sakral berkat iringan tarian magis dan lantunan Tembang Pitu.
Begitu ritual penyucian dan doa bersama pungkas, perhatian massa langsung tertuju pada replika Bolu Rahayu yang berbentuk lesung dan bedug. Ratusan warga yang memadati lokasi segera saling berebut untuk mendapatkan bagian dari panganan khas tersebut. Bagi masyarakat, tindakan ini dipercaya membawa simbolisme berkah, keselamatan, serta kelancaran rezeki.
Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menegaskan bahwa esensi dari kirab budaya serta penyucian pusaka Kyai Pandhawa Nagaragung ini merupakan representasi dari pembersihan lahir dan batin, sekaligus wadah bermunajat bersama bagi ketenteraman daerah.
“Ritual kirab dan penjamasan pusaka ini adalah bentuk permohonan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh elemen masyarakat Magetan senantiasa dilimpahi keselamatan, kehormatan, dan dibentengi dari segala bentuk musibah,” tutur Nanik saat memberikan keterangan pada Kamis malam (25/6/2026).
Nanik menilai, kekompakan warga dalam mengikuti ritus ini membuktikan bahwa ikatan persaudaraan dan kegotongroyongan di Magetan masih sangat kuat.
“Melalui visi spiritual dan harmoni langkah yang menyatu ini, kita menaruh harapan besar agar Magetan ke depan semakin mandiri, sejahtera, dikenal di kancah nasional, serta tumbuh menjadi daerah yang kompetitif,” pungkasnya.(ryn)



