Magetan,seputarjatim.co.id – Pengembangan desa wisata di Kabupaten Magetan memasuki babak baru. Bukan hanya mengandalkan keindahan alam dan potensi lokal, pengelola wisata kini dituntut mampu menjadikan ruang digital sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi kepada masyarakat yang lebih luas.
Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan workshop konten digital Desa Wisata Adi Tirta yang digelar di Wisata Aditirta, Desa Sumbersawit, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut mempertemukan jajaran dosen S1 Sastra Inggris PSDKU Kampus 5 UNESA dengan para kader pariwisata Pokdarwis Aditirta. Workshop diarahkan untuk mendorong pengembangan potensi pariwisata sekaligus memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat Desa Sumbersawit.
Bagi masyarakat desa, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis. Lebih jauh, workshop tersebut menjadi momentum untuk mengubah cara sebuah destinasi wisata diperkenalkan kepada publik. Pasalnya, destinasi yang memiliki potensi lokal tetapi jika tidak dikemas secara menarik di ruang digital akan lebih sulit menjangkau wisatawan di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat.
Rangkaian kegiatan secara resmi berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai di Wisata Aditirta. Agenda diawali registrasi dan pembukaan, kemudian dilanjutkan sambutan Kepala Desa Sumbersawit dan Korprodi Sastra Inggris PSDKU Kampus 5 UNESA.
Salah satu pesan penting datang dari Mbah Sunyoto selaku Mbah Lurah Sumbersawit. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai acara seremonial semata. Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui workshop benar-benar dapat diterapkan oleh masyarakat sehingga berdampak terhadap perkembangan Sumbersawit.
“Mudah-mudahan setelah ada kegiatan ini nanti, teman-teman yang ada di Sumbersawit bisa berkembang,” ujar Mbah Sunyoto. Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya harapan agar pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan efek ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal.
Dengan demikian, Wisata Aditirta tidak diposisikan semata-mata sebagai tempat yang dikunjungi wisatawan. Destinasi tersebut diharapkan menjadi salah satu penggerak aktivitas masyarakat sekaligus ruang untuk memperkenalkan potensi Desa Sumbersawit kepada khalayak yang lebih luas.
Harapan itu menjadi semakin relevan ketika promosi wisata kini bergerak cepat melalui media sosial, mesin pencarian, video pendek, hingga situs web. Wisatawan tidak selalu mengenal sebuah destinasi karena melihat papan nama atau memperoleh informasi dari orang terdekat. Banyak perjalanan justru bermula dari sebuah foto, video, artikel, atau unggahan media sosial yang muncul di layar telepon genggam. Karena itu, kemampuan membuat konten digital menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan desa wisata.
Workshop di Aditirta dirancang dengan sejumlah materi yang saling berkaitan. Materi pertama membahas menulis objek wisata, yang disampaikan Imam Hanafi, S.S., M.App. Ling. Materi ini menjadi penting karena sebuah destinasi membutuhkan narasi. Keindahan tempat tidak cukup hanya ditampilkan melalui gambar. Wisatawan juga membutuhkan cerita mengenai apa yang menarik, mengapa tempat tersebut layak dikunjungi, serta pengalaman apa yang dapat diperoleh ketika datang.
Selanjutnya, peserta mendapatkan materi promosi dan internasionalisasi wisata yang disampaikan Wirdatul Khasanah, S.S., MA. Materi tersebut memperluas perspektif promosi wisata dari sekadar mengenalkan destinasi kepada masyarakat lokal menuju upaya memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas, termasuk kemungkinan menjangkau audiens internasional.
Sementara itu, aspek teknis digital diberikan melalui materi teknis upload dan management web yang disampaikan Yudha Sakti Susena, M.Pd. Ketiga materi tersebut membentuk satu rangkaian yang cukup strategis: destinasi perlu memiliki cerita, cerita perlu dipromosikan, dan promosi membutuhkan pengelolaan platform digital yang baik.
Keberadaan Wisata Aditirta di Desa Sumbersawit juga menempatkan kegiatan ini dalam konteks pengembangan pariwisata Kabupaten Magetan.
Magetan selama ini dikenal memiliki beragam destinasi wisata dengan karakter alam dan budaya yang kuat. Namun, tantangan pengembangan destinasi bukan hanya bagaimana membangun atau menjaga objek wisata, melainkan bagaimana membuat keberadaannya diketahui dan menarik perhatian calon wisatawan.
Dalam konteks tersebut, Sumbersawit memiliki peluang untuk membangun identitas wisatanya sendiri. Aditirta dapat dikembangkan melalui narasi yang mengangkat karakter desa, kehidupan masyarakat, potensi lokal, pengalaman wisata, serta berbagai aktivitas yang dapat menjadi daya tarik pengunjung.
Apabila dikemas secara konsisten, konten tersebut berpotensi membentuk citra destinasi yang lebih kuat. Disinilah masyarakat dan kader pariwisata mempunyai posisi penting. Mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan wisata, tetapi juga dapat menjadi aktor utama yang memproduksi dan menyebarkan cerita tentang daerahnya sendiri.
Pendekatan tersebut membuat promosi wisata terasa lebih autentik. Cerita yang lahir dari masyarakat setempat memiliki peluang untuk memberikan perspektif berbeda dibandingkan promosi yang hanya menampilkan informasi formal mengenai sebuah destinasi.
Penguatan kapasitas digital juga memiliki kaitan erat dengan manfaat ekonomi. Ketika sebuah destinasi semakin dikenal, peluang bagi pelaku usaha lokal ikut terbuka. Wisatawan yang datang membutuhkan makanan, minuman, oleh-oleh, jasa transportasi, tempat menginap, hingga berbagai produk ekonomi kreatif. Artinya, keberhasilan promosi sebuah objek wisata berpotensi menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang.
Karena itu, harapan Mbah Sunyoto agar kegiatan tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat menjadi poin penting dalam pengembangan Desa Wisata Sumbersawit. Ia tidak ingin kegiatan hanya berhenti pada acara yang selesai ketika peserta meninggalkan lokasi. Sebaliknya, pengetahuan yang diperoleh diharapkan menjadi modal bagi masyarakat untuk terus bergerak.
“Mugi-mugi acara medal injing meniko Allah paring waras, lancar, aman, sesuai yang kita harapkan,” ujar Mbah Sunyoto, seraya berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan tujuan yang direncanakan dapat tercapai.
Kegiatan di Wisata Aditirta juga menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata desa membutuhkan kolaborasi. Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan pendampingan. Pemerintah desa memberikan dukungan serta arah pengembangan. Sementara kader pariwisata dan masyarakat menjadi ujung tombak dalam menjaga sekaligus mempromosikan destinasi.
Rundown kegiatan menunjukkan bahwa workshop tidak hanya berisi pemaparan materi. Setelah tiga sesi utama, peserta diberi ruang untuk berdiskusi, melakukan tanya jawab, serta mengikuti sesi foto bersama sebelum kegiatan ditutup dan dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa transfer pengetahuan menjadi bagian utama kegiatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan itu berubah menjadi praktik. Masyarakat Sumbersawit dapat mulai membangun dokumentasi digital mengenai Aditirta secara berkelanjutan. Foto destinasi, video pendek, cerita warga, informasi kunjungan, artikel wisata, hingga konten berbahasa Inggris dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.
Jika dilakukan secara konsisten, konten digital bukan hanya berfungsi sebagai iklan. Konten dapat menjadi arsip digital yang memperkenalkan identitas Desa Sumbersawit dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah desa wisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah destinasi tersebut, tetapi juga seberapa mampu masyarakat mengelola potensi yang dimiliki dan menceritakannya kepada dunia.
Dari Wisata Aditirta, pesan tersebut kini menemukan momentumnya. Magetan tidak kekurangan destinasi. Tantangannya adalah membuat setiap potensi memiliki cerita, memiliki identitas, dan mampu ditemukan oleh wisatawan. Workshop konten digital di Desa Sumbersawit menjadi salah satu langkah menuju arah tersebut.
Jika semangat yang disampaikan Mbah Sunyoto benar-benar diterjemahkan menjadi kerja berkelanjutan, Aditirta bukan tidak mungkin berkembang menjadi salah satu wajah baru pariwisata desa di Magetan—destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman berwisata, tetapi juga membawa cerita tentang masyarakat yang tumbuh bersama potensi daerahnya.



