Rabu, 3 Juni 2026
BerandaKesehatanAncam Kebutaan, Yayasan Paramitra Indonesia Dorong Penderita Diabetes Rutin Cek Retina Mata

Ancam Kebutaan, Yayasan Paramitra Indonesia Dorong Penderita Diabetes Rutin Cek Retina Mata

-

Magetan,seputarjatim.co.id — Kasus komplikasi penyakit diabetes melitus yang menyerang organ penglihatan atau dikenal sebagai retinopati diabetik (diabetic retinopathy), kini mulai marak ditemukan pada masyarakat di Kabupaten Magetan. Fenomena ini memicu kekhawatiran karena penanganan dini terhadap risiko kebutaan tersebut dinilai masih minim.

Sorotan tajam ini datang dari Ketua Yayasan Paramitra, Aishah Sugianti. Dalam sebuah diskusi kesehatan mata, ia mengungkapkan bahwa data dari berbagai fasilitas kesehatan tingkat pertama menunjukkan angka penderita diabetes melitus dengan kadar gula darah tinggi di Magetan cukup merata di hampir seluruh puskesmas. Sayangnya, kondisi tersebut belum diimbangi dengan pemeriksaan mata lanjutan yang rutin.

“Banyak masyarakat yang mungkin belum memahami bahwa diabetes melitus dapat menyebabkan kerusakan serius pada mata. Ketika gula darah tinggi terus berlangsung, pembuluh darah kecil yang masuk ke retina bisa mengalami kerusakan, pecah, bahkan tumbuh bercabang-cabang secara tidak normal,” ujar Aishah usai diskusi pada Rabu (3/6/2026).

Aishah memaparkan bahwa diabetes melitus tidak sekadar memengaruhi kadar gula dalam tubuh, tetapi juga berpotensi merusak organ vital lain akibat hancurnya pembuluh darah retina jika gula darah tidak dikontrol dalam jangka panjang.

Sifat dari komplikasi ini menyerang secara senyap tanpa gejala awal yang mencolok. Akibatnya, sebagian besar pasien baru mencari pertolongan medis ketika kemampuan penglihatan mereka sudah merosot tajam. Jika dibiarkan tanpa intervensi, risiko tertinggi dari kondisi ini adalah kebutaan permanen.

Lebih lanjut, Yayasan Paramitra melihat adanya celah dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat saat ini. Puskesmas lokal umumnya masih berfokus pada pemantauan gula darah dan pengobatan dasar, sementara akses untuk skrining atau deteksi dini kerusakan retina mata masih sangat terbatas.

Mengingat tren kurva penderita diabetes yang terus menanjak saban tahun, Aishah mendesak adanya penguatan sistem edukasi dan penyediaan fasilitas skrining di tingkat pelayanan dasar.

“Kesadaran masyarakat mengenai komplikasi diabetes pada mata masih sangat rendah. Banyak yang merasa selama penglihatannya masih normal berarti aman, padahal kerusakan retina bisa terjadi diam-diam,” tambahnya.

Sebagai penutup, Aishah berharap momentum diskusi kesehatan ini dapat menggerakkan kesadaran kolektif—baik dari sisi masyarakat maupun pemangku kebijakan di sektor kesehatan—untuk melihat diabetes sebagai ancaman sistemik yang lebih luas.

“Harapan kami, masyarakat tidak lagi menganggap diabetes hanya sebatas penyakit gula darah. Dampaknya bisa sangat luas, termasuk menyebabkan kebutaan. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.(ryn)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti

Berita Terbaru