Senin, 16 Maret 2026
BerandaPeristiwaKritik Pengelolaan MBG di Magetan, Diana Sasa: Ini Uang Rakyat, Bukan Makan...

Kritik Pengelolaan MBG di Magetan, Diana Sasa: Ini Uang Rakyat, Bukan Makan Gratisan!

-

Magetan,seputarjatim.co.id– Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana AV Sasa, memberikan sorotan tajam terkait pelaksanaan program Makan Bergizi (MBG) di wilayah Kabupaten Magetan. Sasa menegaskan bahwa sebagai struktur partai di tingkat DPC, pihaknya tunduk pada instruksi pusat untuk mengawasi agar program ini tidak menjadi ajang mencari keuntungan pribadi oleh pihak-pihak tertentu.

Sasa mengungkapkan telah memanggil oknum mitra yang terindikasi mengambil celah bisnis dalam program ini sebelum surat edaran resmi turun. Ia dengan tegas meminta agar praktik tersebut segera dihentikan dan dialihkan sesuai prosedur yang benar.

Sebagai bagian dari fungsi pengawasan legislatif, Sasa mengaku telah bersurat kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Magetan. Ia mendesak adanya perbaikan menyeluruh, terutama terkait kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP).

“Saya sudah mengirimkan surat untuk perbaikan SOP. Kita beri waktu sampai momen Lebaran ini. Jika setelah Lebaran tidak ada perubahan signifikan, saya akan turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara acak,” ujar Sasa kepada media,sabtu(14/03/2026).

Meski bukan bagian dari Satgas MBG, Sasa mengingatkan aparat pengawas di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk bekerja ekstra ketat. Ia meluruskan persepsi masyarakat mengenai istilah “gratis” dalam program tersebut.

“Ini dana besar dan sumbernya dari pajak kita semua. Jadi sebenarnya tidak ada yang 100 persen gratis, itu uang rakyat. Karena itu, penggunaannya harus transparan dan diawasi betul,” tegasnya.

Lebih lanjut, politisi PDI Perjuangan ini menyoroti kualitas penyajian dan kandungan gizi makanan. Ia mengedukasi masyarakat agar tidak hanya melihat tampilan fisik makanan, tetapi juga nilai nutrisinya. Sebagai contoh, bahan lokal seperti ubi mungkin terlihat sederhana, namun memiliki kandungan gizi yang sangat baik.

Sasa juga menyarankan agar pengelola program MBG melibatkan tenaga profesional atau chef dalam proses pengolahan makanan, bukan sekadar juru masak biasa.

“Bukan meremehkan tukang masak, tapi menghitung kalori, nilai gizi, porsi, hingga manajemen dapur itu butuh keahlian khusus. Kalau tidak bisa sewa chef permanen, minimal minta nasihat atau konsultasi ilmunya. Jangan asal-asalan,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Sasa mengajak seluruh lapisan masyarakat Magetan untuk tidak takut mengawasi jalannya program di lapangan. Menurutnya, di era digital saat ini, pengawasan publik adalah senjata paling ampuh untuk menciptakan keadilan.

“Jangan takut. Kalau memang ada yang tidak beres, sampaikan. Sekarang zamannya media sosial, mata ada di mana-mana. Kita harus berani bersuara karena seringkali no viral, no justice. Mari kita atasi ketakutan itu bersama-sama demi perbaikan daerah,” pungkasnya.(ryn)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
spot_imgspot_imgspot_img

Berita Terbaru