Magetan,seputarjatim.co.id – Imbas kebijakan larangan parkir di halaman depan sisi timur Pasar Baru Magetan berbuntut panjang. Merasa omsetnya anjlok drastis akibat kebijakan tersebut, Paguyuban Pedagang dan Pengusaha Pasar Baru Magetan melayangkan protes keras hingga mengancam akan melakukan aksi mogok membayar abonemen (retribusi) pasar.
Langkah nekat ini diambil menyusul sepinya aktivitas jual beli dalam sepekan terakhir, sejak aturan larangan parkir kendaraan roda dua di area depan pasar diberlakukan.
Sekretaris Paguyuban Pedagang dan Pengusaha Pasar Baru Magetan, Gilang, mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut berdampak langsung pada tingkat kunjungan masyarakat. Menurutnya, saat area depan sempat dibebaskan untuk lokasi parkir motor, geliat ekonomi di pasar tradisional tersebut perlahan mulai tumbuh.
Namun, situasi berbalik 180 derajat setelah munculnya barikade larangan sejak satu minggu lalu.
“Begitu parkir di depan dilarang seminggu ini, jumlah pengunjung langsung merosot tajam. Malah ada rekan pedagang yang sama sekali tidak pecah telur atau tidak mendapatkan pembeli seharian penuh,” keluh Gilang saat dikonfirmasi,Selasa(30/06/2026).
Anehnya, lanjut Gilang, pihak paguyuban hingga kini belum menerima alasan atau sosialisasi yang jelas dari pihak terkait mengenai dasar pelarangan pemanfaatan halaman timur tersebut sebagai kantong parkir. Sembari menanti kejelasan, seluruh pedagang kini kompak menuntut agar fasilitas parkir di halaman depan sisi timur dikembalikan seperti semula.
Meskipun menyadari bahwa ketersediaan lahan parkir di bagian depan bukan satu-satunya faktor penentu ramainya pusat perbelanjaan, Gilang menegaskan aturan baru ini justru kian memperkeruh kondisi pasar yang sejak awal memang sudah sepi.
Demi memperjuangkan nasib para pedagang, paguyuban resmi mengambil langkah formal dengan mengirimkan surat permohonan audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magetan.
“Semua pihak sebenarnya tahu kalau kondisi Pasar Baru ini sedang sepi. Adanya akses parkir di depan itu setidaknya menjadi daya tarik agar pengunjung mau singgah,” jelasnya.
Jika aspirasi ini diabaikan dan pembatasan parkir tetap dipaksakan, para pedagang menegaskan tidak akan membayar biaya abonemen pasar. Langkah ini dinilai realistis lantaran pendapatan mereka merosot tajam dan tidak lagi mencukupi untuk menutup biaya operasional harian.(ryn)



