Selasa, 20 Oktober 2026
BerandaNewsLiburan ke Belanda

Liburan ke Belanda

-

Desa mawa cara, negara mawa tata, yang artinya setiap daerah (desa) memiliki adat, kebiasaan dan cara sendiri-sendiri dan setiap negara juga memiliki hukum sendiri-sendiri. Demikian juga hidup di Indonesia dan Belanda tentu juga memiliki adat dan kebiasaan tersendiri. Tidak bisa disamakan begitu saja karena perjalanan setiap bangsa, demikian juga lingkungan alamnya juga berbeda. Bahkan Fred W. Riggs dalam tesisnya menyampaikan bahwa administrasi publik di lingkungan negara berkembang yang tampaknya modern akan membias ketika berhadapan dengan kenyataan sosial serta lingkungannya.

Maka jangan heran kalau setiap masyarakat memiliki adat dan kebiasaan yang tidak sama. Namun menurut hemat saya, kita tentu bisa mengambil hal-hal positif dan membuang hal yang buruk serta mengambil yang baik dari negara lain demi kebaikan tata kehidupan dalam hidup bersama. Sayangnya seringkali kita hanya berhadapan dan berhenti dengan rasa kagum tanpa bersedia dan mau mengadopsi hal-hal yang baik dari bangsa lain dan membuang jauh kebiasaan buruk yang terus kita ugemi.

Membentuk Keluarga Cara Belanda

Pandangan normal orang Indonesia namanya keluarga terdiri dari ibu, bapak dan anak. Di Belanda yang namanya keluarga tidak harus memiliki anak. Dan sebuah pasangan memiliki anak dan tidak merupakan komitmen pasangan ketika akan menikah maupun hidup bersama. Tidak mengherankan orang-orang Belanda ketika menikah atau memutuskan hidup bersama dan komitmennya tidak memiliki anak kemudian mengadopsi anak dari berbagai negara termasuk Indonesia. Malahan ada kecenderungan dalam keluarga Belanda saat ini banyak yang hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan.

Adat demikian sudah lumrah di negara Barat. Kita tentu masih ingat pemain sepak bola terkenal saat ini Leonel Messi dan Cristiano Lonardo, mengesahkan pernikahannya setelah anak-anaknya mulai besar. Demikian juga beberapa bintang film, juga demikian. Bukan berarti hanya bintang film dan orang terkenal yang melakukan cara hidup seperti itu, di dalam masyarakat Barat hidup bersama itu sudah lama diterima sebagai norma sosial. Bahkan ketika saya banyak bertemu dengan orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Belanda, anak-anak mereka juga banyak yang melakukan hidup bersama tanpa ikatan perkawinan (gereja) dan sudah dianggap wajar saja.

Kebetulan anak saya penganut dalam membentuk keluarga melalui perkawinan, sehingga saya tidak mengalami kejutan budaya. Hanya cara merayakan perkawinan yang jauh berbeda dengan kita. Bagi warga Belanda, dalam resepsi pernikahan justru sangat aneh kalau dirayakan seperti kita kalau melaksanakan resepsi pernikahan dengan mengundang begitu banyak undangan. Perkawinan di Belanda sangat simpel sekali. Yang diundang hanya keluarga dan teman dekat saja. Paling sekitar 25-50 orang saja.

Dan biasanya kalau ada resepsi dilaksanakan di gemeente tempat pecatatan perkawinan, atau di gereja bahkan di restoran. Dan yang memiliki uang agak banyak resepsi bisa dilaksanakan di kastil yang memiliki nilai historis. Atau bahkan tidak ada resepsi sama sekali. Hanya kemudian uangnya digunakan bula madu ke Bali, Thailand, Maldive, atau tempat indah yang dipilih  misalnya.

Bagi kita mungkin dianggap aneh kalau ada yang mengundang kemudian dalam undangan menyebutkan bila berkenan bisa menyumbang barang yang dibutuhkan seperti rice cooker, jam dinding dan barang yang dibutuhkan pasangan yang mengundang. Tentu saja permintaannya yang wajar, tidak yang aneh-aneh kalau ada undangan resepsi perkawinan di Belanda. Yang aneh kalau ada yang minta kado mobil misalnya heeeee. Tapi tidak sedikit ada juga yang mengundang tanpa meminta sesuatu.

Bagi warga Belanda undangan meminta barang yang dibutuhkan seperti itu wajar. Karena memang orang Belanda juga terus terang apa adanya. Tidak bendhol mburi kalau istilah kita. Tak mengherankan bila menantu saya dan besan kebingungan ketika mendengar resepsi di Indonesia yang diundang begitu banyak. Sempat pusing dan stress. Membayangkan harus ngobrol dengan tamu yang demikian banyak. Tetapi setelah dijelaskan di Indonesia tidak perlu ngobrol dengan tamu satu per satu baru mulai memahami, karena memang budayanya berbeda.

Pendidikan TK di Belanda.

Cara hidup sehari-hari keluarga Belanda itu penuh rencana dan disiplin dengan apa yang telah diputuskan. Melihat ritme kehidupan keluarga muda Belanda, pagi-pagi sudah bangun dan menyiapkan bekal pagi bagi anak dan suami untuk makan siang. Karena anak saya memiliki anak kecil baru dua bulan masih belum bekerja, sehingga masih banyak di rumah. Ketika suami berangkat bekerja sambil bawa bekal, anaknya yang kecil diantar ibunya ke sekolah sedang anaknya yang masih kecil dibawa dengan memakai stoler.

Sekolah semacam TK atau di Belanda disebut Basisschool (group 1 umur 5 tahun dan group 2 umur 6 tahun) letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya sekitar 700 meter. Belajar di tingkat ini, anak hanya belajar sambil bermain. Sekolah di Belanda tidak mengenal seragam seperti kita. Pakaian anak bebas tapi rapi. Sejak dini anak-anak diajar disiplin. Mengantar anak ke sekolah tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat. Ruang kelas baru dibuka lima menit sebelum sekolah dimulai. Dan kalau pulang orang tua ketika menjemput juga tidak boleh terlalu cepat atau terlambat.

Anak kelas Basisschool masuk jam 08.30 dan pulang jam 15.00. Istirahat dan makan siang jam 12.00-13.00. Bagi yang makan siang pulang ke rumah, anak akan dijemput oleh orang tuanya. Namun bagi yang tidak pulang waktu istirahat untuk makan siang, anak dibawai bekal makan siang dari rumah. Dan cucu saya makan siang membawa bekal dari rumah, sehingga waktu istirahat orang tua tidak perlu menjemput. Hanya pembayarannya yang berbeda. Sebenarnya sekolah di Belanda tidak membayar, namun ada iuran yang diorganisir oleh orang tua, yaitu iuran setahun e 85 dan kalau makan siang tidak pulang ada tambahan membayar sebulan e 24. Uang ini bukan untuk guru tetapi digunakan untuk kegiatan di luar kegiatan belajar mengajar seperti pentas kelulusan dan lainnya.

Dalam kegiatan sekolah, anak belum diajar kegiatan akademik semata-mata hanya bermain, tetapi permainan yang mendidik. Saya melihat anak-anak kalau ke sekolah selalu happy tidak ada tekanan di wajah anak-anak. Dan pada hari tertentu orang tua dibolehkan mengantar sampai masuk dalam kelas, karena biasanya orang tua hanya boleh mengantar sampai halaman sekolah. Dan ketika waktunya pulang dan orang tua menjemput, anak-anak ketika keluar sekolah baris berjejer di samping pintu sekolah. Satu per satu anak-anak diserahkan oleh guru kepada orang tuanya yang menjemput. Guru memastikan anak pulang ada yang menjemput dan yang menjemput dipastikan keluarganya.

Waktu masuk dan selesai sekolah selalu tepat waktu. Anak-anak sudah dididik sejak kecil tepat waktu. Tidak ada alasan apa pun terlambat. Walaupun hujan atau musim dingin. Kalau hujan anak-anak bisa memakai jas hujan. Ada pepatah Belanda yang mendidik membuat dalam situasi seperti apa pun seseorang harus tetap disiplin,”kamu tidak terbuat dari gula.” Itulah pepatah yang mendorong seseorang dalam situasi apa pun disiplin menjadi nilau utama. Karena pendidikan di rumah serta lingkungan sosial mengajarkan disiplin maka disiplin merupakan nafas orang-orang Belanda.

Pendidikan di Keluarga Belanda

Dalam pola asuh dan pendidikan di Belanda dikenal denga istilah 3 R yang merujuk pada tiga pilar utama yaitu Rust (istirahat), Reinheid (Kebersihan) dan Regelmaat (Keteraturan). Prinsip tradisional tersebut mulai digagas tahun 1915 oleh Aafke Gesina van Hulst yang hasilnya mengapa anak-anak di Belanda menjadi salah satu anak yang paling Bahagia di dunia.

Rust (Istirahat), yang dimaksud adalah keluarga Belanda sangat menjaga suasana rumah tetap tenang. Jadual tidur diatur dengan ketat sehingga anak-anak memiliki waktu istirahat yang cukup sesuai kebutuhan istirahat tingkat usianya. Pulang sekolah anak-anak Belanda sampai di rumah setelah melepas pakaian, membersihkan diri istirahat sebentar kemudian makan camilan dan istirahat. Lepas istirahat kemudian main di rumah, atau main di playground dekat lingkungan rumah.

            Hampir tidak terlihat anak-anak bermain di tetangga seperti kita. Sama sekali tidak pernah lihat dan memang tidak umum. Kalau bertemu dengan anak-anak tetangga biasanya kalau kebetulan bersama bermain di playground. Dan playground merupakan tempat bertemunya anak-anak di lingkungan. Apalagi playground dibuat sangat ramah anak dan aman sekali menurut hemat saya. Demikian juga kebersihannya sangat terjaga.

Di Belanda setiap lingkungan memiliki playground. Tidak ada yang namanya misal organisasi pemuda di lingkungan seperti Karang Taruna seperti di Indonesia. Demikian juga untuk orang tua juga tidak ada organisasi seperti RT/RW. Juga tidak ada misalnya arisan bapak-bapak/ibu-ibu juga tidak ada. Semua diatur secara online oleh gemeente (pemerintahan kota). Keluarga di Belanda tidak pernah urusan dengan lingkungan. Sehingga tidak ada rasan-rasan antar tetangga. Keluarga merupakan urusan privasi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain.

Orang Belanda dikenal sangat cinta kebersihan rumah. Rumah-rumah keluarga Belanda umumnya sangat bersih dan baik. Orang Belanda sangat tidak sayang memperbaiki interior rumah. Bahkan setiap beberapa waktu interior diganti. Tetapi barang-barang tidak terlalu banyak seperti orang-orang Indonesia. Barang-barangnya simpel kecuali memang kolektor. Melihat kehidupan perumahan di Belanda terasa tenang. Karena semua saling menjaga. Bahkan kalau ada bersuara keras seperti nyetel musik misalnya, bisa lapor polisi.         

Reinheid (Kebersihan), anak-anak Belanda sejak dini diajak menjaga kebersihan. Sejak kecil anak sudah diajari memilah sampah mulai dari rumah. Di rumah sampah dibagi mulai sampah plastik, sampah organik dan kertas. Jadi setiap rumah tangga di Belanda di dalam rumahnya sudah ada tempat sampah yang dipilah menjadi tiga. Kemudian di depan rumah sudah ada tiga tempat sampah yang berukuran besar dan rata-rata seminggu sekali diambil oleh petugas sampah. Kalau seandainya orang mencampur sampahnya, bakal tidak diambil oleh petugas. Kalau itu terjadi akan menjadi aib bagi keluarga tersebut, sehingga sampah menjadi menumpuk dan harus menunggu seminggu lagi akan diambil petugas setelah dipilah.

Kalau sebuah keluarga membuang sampah tidak dipilah, bisa membuang di tempat sampah khusus yang bisa dibuka bila membayar dulu sekitar e 2 (dua Euro). Letak tempat sampahnya dibuat sedemikian rumah, seperti tertanam di tanah dan pada waktu tertentu diambil oleh petugas. Demikian juga di sekolah, anak-anak juga sudah diajar kebersihan. Setiap selesai mengerjakan tugas-tugas atau bermain semua harus dirapikan sendiri. Dan anak-anak yang hari itu dipandang paling manis biasanya diberi stricker dengan gambar menarik oleh gurunya ditempelkan di tangan atau bajunya.

Tak mengherankan bila di Belanda mulai di keluarga, di lingkungan maupun di tempat-tempat sangat bersih. Tak mengherankan bila di Belanda mulai di rumah, lingkungan, sekolahan maupun tempat-tempat umum sangat bersih. Bahkan kanal-kanal di Belanda yang jumlahnya demikian banyak semuanya bersih-bersih. Tak ana sampah, apalagi sampah plastik yang berserakan di sungai. Kanal di belakang rumah anak saya juga bersih. Sampai rumput ilalang tanggul sungai di belakang rumah rutin dipotong oleh petugas gemeente dengan menggunakan perahu.

Regelmaat (Keteraturan). Hidup keluarga Belanda sangat teratur. Agenda setiap anggota keluarga sudah diatur sebelumnya. Demikian juga anak, sejak bayi sudah diajar keteratura. Tidak seperti kita, sejak bayi anak-anak tidur dengan bapak/ibunya apalagi yang masih menyesui. Anak Belanda yang masih bayi, sudah dipisah tidur dengan ibunya. Kalau bayi minta ASI dan menangis baru ibunya datang. Sehingga anak mulai bayi sudah diajar ritme kehidupan keluarga utamanya ibunya.

Karena di Belanda jarang sekali (hampir tidak ada yang memiliki pembantu) memiliki pembantu, semua dikerjakan sendiri. Hanya waktu habis melahirkan oleh pemerintah disediakan perawat dan semacam membantu keperluan rumah selama seminggu. Setelah itu semua harus dikerjakan sendiri suami/istri. Di Belanda tugas rumah tangga tidak melulu tugas istri tetapi siapa pun yang memiliki kesempatan mengambil tugas rumah tangga dan saling mengisi.

Dan yang menarik sejak anak-anak, orang tua sudah mengenalkan bacaan kepada anak-anaknya. Kemudian sebelum tidur orang tua selalu membacakan cerita melalui buku bergambar kepada anak-anaknya. Dan biasanya anak-anak Belanda kebanyakan belum tidur kalau belum dibacakan cerita oleh orang tuanya. Buku-buku cerita kalau tidak bersedia membeli bisa meminjam ke perpustakaan gemeente yang letaknya strategis gampang diakses oleh semua warga.

Buku yang dipinjam bisa bermacam-macam sesuai usianya. Sekali meminjam bisa sepuluh buku selama dua minggu. Dan kalau meminjam buku semua mandiri karena semua transaksi melalui komputer. Mulai milih buku kemudian mencatatkan mandiri di komputer melalaui barkode. Demikian juga kalau mengembalikan juga mandiri dengan mencatat melalui barkode pengembalian, kemudian buku diletakkan ditempat rak pengembalian buku.

Perpustakaan Gemeente Lansingerland di Provinsi Zuid-Holland, Belanda sangat bagus menurut saya. Letak perpustakaannya ada di tengah danau di central kota. Di depan dengan mengambil sepertiga luas perpustakaan lantai bawah terletak café. Seperti pada hari Senin tanggal 19 Oktober 2026 sekitar jam 11.00 saya mengantar cucu saya mengembalikan buku ke perpustakaan, sudah banyak anak-anak yang diantar orang tuanya ke perpustakaan. Pada hari itu kebetulan mengawali hari libur musim gugur selama seminggu. Pengunjung juga banyak para remaja, orang tua dan juga para lansia semua tekun membaca buku sambil minum kopi dan makanan kecil lainnya.  

Sepeda dan Kendaraan Umum Menjadi Budaya

Umumnya anak-anak seusia Basisschool (TK A-B) kalau ke sekolah diantar orang tuanya naik sepeda. Kebanyakan mereka diantar orang tuanya memakai sepeda yang modelnya seperti becak. Kelihatan seperti becak kalau di Indonesia, tetapi di Belanda umum menjadi kendaraan keluarga. Dan harganya juga cukup mahal kalau dirupiahkan. Bisa buat beli mobil sedan bekas yang kondisi masih sangat bagus di Indonesia.

 Kalau cucu saya ke sekolah biasanya naik sepeda yang tanpa kayuh karena memang masih kecil. Dan masih diantar oleh orang tuanya dan kalau saya pas di Belanda (seperti saat ini) saya sering mengantarkannya atau menjemputnya. Sambil naik sepeda tanpa kayuh, saya mengikuti dari belakang. Sebenarnya orang tua tidak perlu terlalu khawatir ketika anak-anak di jalan. Lalu lintas di Belanda sangat taat pada aturan. Seperti ada kasta tersendiri yang harus dihormati berlalu lintas di Belanda.

Kasta tertinggi adalah pejalan kaki. Kalau kita berjalan kaki kemudian mau menyeberang di tempat penyeberangan, bisa dipastikan mobil dari jauh sudah siap-siap berhenti atau mengurangi kecepatan. Setelah pejalan kaki, selanjutnya sepeda. Setiap orang yang bersepeda yang mau menyeberang di penyeberangan dari jauh mobil juga sudah mengurangi kecepatan. Tak mengherankan di Belanda yang namanya jalan untuk mobil tidak terlalu mencolok lebarnya dibandingkan dengan pedestrian/trotoar atau jalan sepeda. Sehingga semua memiliki sarana yang seimbang. Tak mengherankan jalan kaki maupun bersepeda di Belanda sangat nikmat menurut saya yang memang pecinta bersepeda sejak dulu.

Dan sepeda sudah menjadi transportasi utama warga Belanda. Anak-anak sampai orang tua sudah biasa ke mana-mana naik sepeda. Bahkan kaya miskin naik sepeda. Yang membedakan kaya miskin bukan kendaraan yang ditumpangin seperti di Indonesia, tetapi jumlah uang di rekeningnya. Tak mengherankan kalau kemudian sampai Perdana Menteri Belanda ketika mengakhiri tugasnya pulang ke rumah cukup naik sepeda. Dan naik sepeda tidak mengurangi harga dirinya sebagai seorang mantan pejabat tinggi di pemerintahan.

Jangan heran kalau kemudian budaya sepeda sudah mandarah daging di seluruh warga Belanda. Bahkan menurut catatan statistik, jumlah sepeda di Belanda dengan penduduknya lebih banyak sepedanya. Demikian juga budaya naik transportasi umum juga sudah mandarah daging. Kita bisa buktikan di setiap stasiun kereta api, baik metro maupun kereta jarak jauh parkiran sepeda puluhan ribu jumlahnya.

Minum Teh/Kopi dan Dinner Sarana Interaksi.

Kita sering melihat orang-orang Barat betah duduk berjam-jam untuk ngobrol. Demikian juga kalau makan malam, merupakan sarana yang bagus untuk ngobrol dengan seluruh anggota keluarga. Saya dulu juga agak canggung ketika pertama beinteraksi dengan besan menemani minum teh di sore hari. Demikian juga waktu makan malam kemudian ngobrol ke sana-kemari. Tetapi lama-lama juga ikut happy saja.

Di Belanda yang namanya keluarga itu terdiri dari ibu/bapak dan anak atau nuclear family. Tidak seperti kita yang disebut keluarga itu bisa ibu/bapak/anak/saudara/ anak saudara dst atau extended family. Jadi yang disebut keluarga itu demikian luasnya. Sehingga sering kurang jelas batasnya. Demikian juga yang namanya teman itu di Belanda hanya teman dekat saja. mungkin jumlahnya hanya dua tiga orang dan yang lainnya disebut kolega. Seperti teman kantor, teman sekolah itu disebut kolega. Kita di Indonesia semua disebut teman.

Dengan demikian, ketika minum teh/kopi dengan keluarga atau teman bisa berlama-lama karena bisa ngobrol terbuka apa saja. Oleh sebab itulah bagi keluarga Belanda minum teh dan makan malam merupakan sarana bagus untuk ngobrol apa saja dengan anggota keluarga. Jangan heran makan malam (dinner) bagi keluarga Belanda menjadi ritual khusus yang harus diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Dan dalam ritual itu tidak boleh ngomong sendiri, main Hp sendiri, pasti ditegur atau dianggap tidak sopan.

Sopan santun di acara makan malam warga Belanda tidak hanya itu. Ada beberapa tindakan yang dianggap tidak sopan ketika makan malam (makan bersama) dengan keluarga Belanda. Mendahului makan, dianggap tidak sopan. Demikian juga mengakhiri duluan kemudian pergi sedang lainnya masih makan dianggap sangat tidak sopan. Kalau kita makan kekenyangan setelah itu kemudian minum soda gembira kemudian “antob” (sendawa) dianggap tidak sopan. Juga ketika sisa makanan yang menyangkut di sela gigi kemudian kita mengambil tusuk gigi kemudian mengeluarkan makanan dengan tusuk gigi sedang anggota lainnya masih duduk bersama juga dianggap tidak sopan. Oleh sebab itu di keluarga Belanda banyak tidak menyediakan tusuk gigi. (bersambung)

Oleh: Suprawoto

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti

Berita Terbaru