Sabtu, 12 September 2026
BerandaArtikelGraha Literasi: Membangun Infrastruktur Pikiran

Graha Literasi: Membangun Infrastruktur Pikiran

-

Ada yang menarik perhatian pada acara Festival Literasi Magetan kali ini (2026), ketika pada malam harinya disajikan tontonan wayang kulit pakeliran dengan salah satu dalangnya seorang putri Ni Amanda Mutiara Kusuma Dewi, dengan lakon Srikandi Kridho – entah fenomena ini suatu yang kebetulan atau memang sudah dikonsepkan. Kita bisa menarik makna antara; dalang-lakon wayang dengan perjuangan emansipasi melalui literasi R.A Kartini. 

Melalui kemampuan literasinya,  R.A. Kartini menuangkan  buah-buah pikirannya dalam tulisan yang dikirimkan kepada sahabat-sahabat korespodensinya Rosa Abendanon- J.H. Abendanon, gagasan mengenai emansipasi dan pentingnya pendidikan kaum perempuan juga sering ia tuangkan dalam surat-suratnya kepada sahabat pena lainnya Estelle Zeehandelaar (Stella) di Belanda.

Inilah sebuah fakta historis, bahwa secara fisik R.A. Kartini dipingit, kebebasannya dibatasi, akan tetapi goresan penanya – buah pikirannya melesat jauh  melampaui batas negara dan bangsa. Surat-surat R.A. Kartini, kemudian oleh J.H. Abendanon disusun dan diterbitkan dalam bentuk buku, untuk pertama kalinya dalam bahasa Belanda pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Di Indonesia buku tersebut  kemudian diterjemahkan dan ditata ulang ke dalam bahasa Indonesia (melalui penerbit Balai Pustaka) oleh sastrawan Armijn Pane pada tahun 1938 menjadi edisi yang populer, yang kita kenal dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Cerita di atas juga merupakan sebuah bukti bahwa buah pikiran dapat diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dengan demikian literasi R.A Kartini tidak sekedar melampaui batas negara-bangsa, namun juga melintas antar waktu dan generasi.

Dari sekilas cerita mengenai perjuangan R.A. Kartini, dapat kita pahami bahwa literasi tidak lagi sekedar dimaknai dari  bahasa awalnya, yaitu “littera” atau “litteratus”, yang berasal dari bahasa latin.  Littera secara harfiah berarti huruf (letter) atau tulisan. Kini literasi dimaknai secara lebih luas, tidak sekedar membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan manusia memperoleh pengetahuan,membaca, memahami maknanya, menulis, menguji kebenarannya, dan mengolahnya menjadi gagasan baru.

R.A Kartini, mengenyam pendidikan formal di ELS (Europeesche Lagere School), yaitu sekolah dasar pada masa kolonial Belanda yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan sebagian kecil anak pribumi dari kalangan priyayi. R.A. Kartini tidak sekedar membaca buku namun juga membaca kondisi bangsa dan kaumnya saat itu, memahami, merenungkan dan menuangkannya di dalam tulisan tentang gagasan-gagasannya. Badan Bahasa mencatat bahwa karya Kartini yang dapat dipelajari sekarang bahkan mencakup 179 surat dan 11 artikel. Surat-surat dan beberapa artikel tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas membaca dan menulis dapat berkembang menjadi sebuah kekuatan pemikiran. Museum R.A. Kartini Rembang, di sana kita masih bisa melihat langsung kamar tidur pribadi Kartini, meja tempat ia menulis, ruang kelas tempat ia mengajar, serta koleksi buku-buku dan surat-surat aslinya. Sebagian besar koleksi fisik dan replika pustaka tersebut kini dipajang di lemari kaca khusus di dalam kompleks museum untuk memperlihatkan betapa luasnya cakrawala bacaan sang pelopor kebangkitan perempuan tersebut.

Dari koleksi pustaka R.A. Kartini beserta  aktivitas literasinya, dapat kita ambil sebuah citra yang dapat kita harapkan digunakan sebagai model pengembangan Graha Pusat Literasi Magetan. Sehingga R.A Kartini hadir sebagai inspirasi historis bahwa perubahan intelektual dan perjuangan lahir dari kebiasaan membaca.  Seharusnya Graha Literasi tidak sekedar dimaknai sebagai gedung perpustakaan yang menyimpan sejumlah koleksi buku,  tetapi sebagai ruang yang dapat melahirkan pejuang-pejuang gagasan, melahirkan karya inovatif dan tulisan; melahirkan insan-insan berpengetahuan dengan visi ke depan; artinya Graha Literasi perlu dikembangkan menjadi sebuah ruang  yang memungkinkan berbagai aktivitas pembangunan infrastruktur pikiran. 

Graha Literasi diharapkan, bukan sekedar “ruang buku” tetapi “ruang membangun pengetahuan”; ruang, sumber pengetahuan, kebiasaan-budaya, dan adanya institusi yang memungkinkan manusia membaca, belajar, berpikir kritis, berdiskusi, serta menghasilkan gagasan. Jika infrastruktur fisik memungkinkan manusia bergerak dari satu tempat ke tempat lain, maka infrastruktur pikiran memungkinkan manusia bergerak dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari mengolah informasi menuju pemahaman, dan dari pemahaman menuju penciptaan gagasan dan karya.

Lalu di jaman serba digital, AI, dan e-book masih relevankah kita berbicara tentang buku? Tentu saja masih relevan,  dan keduanya seharusnya tersedia dan berdampingan di Graha Literasi. Membaca buku panjang melatih konsentrasi, memahami struktur berpikir, dan kemampuan mengikuti argumentasi yang kompleks. Sementara dunia digital unggul dalam kecepatan akses, pencarian, pembaruan informasi, dan jangkauan sumber. Karena itu, pendekatan yang paling tepat bukan mempertentangkan keduanya tetapi membuatnya saling melengkapi. Membaca textbook dapat melatih deep reading: kemampuan membaca secara utuh, memahami konteks, menghubungkan gagasan, mempertanyakan argumentasi, dan membedakan pengetahuan dari sekadar informasi. Di era digital orang membaca banyak sekali potongan informasi-bahkan kebanjiran informasi, tetapi belum tentu membaca secara mendalam (skip-scroll). Karena itu, tantangan sekarang bukan lagi sekadar access to information, tetapi depth of understanding.

Apa yang disampaikan di atas hanyalah sekedar lintasan pemikiran, yang masih perlu terus didiskusikan, diwacanakan, diresonansikan, direncanakan dan pada akhirnya diemplementasikan. Diperlukan peran serta dan kolaborasi dari berbagai pihak serta kalangan untuk mewujudkannya.  Tidak bisa kemudian pengembangan Graha Literasi sekedar dibebankan kepada Pemerintah Daerah;  Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, namun sebaliknya Pemerintah Daerah juga harus ramah dan membuka tangan terhadap  insan-insan, perusahaan, institusi yang berkeinginan berkontribusi untuk mengembangkan Graha Pusat Literasi Magetan. Kemajuan sebuah daerah tidak hanya dapat dilihat dari seberapa jauh jalan yang dibangun, tetapi juga dari seberapa jauh pikiran masyarakatnya mampu berjalan.

*Oleh: Pangayoman, Pelukis dan Pecinta Keris

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti

Berita Terbaru