Pendahuluan.
Sejak dulu pedalaman Jawa ini merupakan inti dari feodalisme dengan penduduk yang banyak, lebih banyak dari daerah manapun di Jawa. Adanya prasasti, candi-candi dan peninggalan monumen raksasa menunjukkan bahwa di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur yang banyak penduduknya dulu adalah pusat kerajaan di pedalaman. Tentu pedalaman Jawa yang subur menarik banyak penduduk untuk tinggal, bercocok tanam menjadi sumber penghidupannya. Tak mengherankan bila kerajaan di pedalaman Jawa merupakan kerajaan yang ditopang oleh pertanian dan hasilnya diperdagangkan melalui pelabuhan di pesisir yang kemudian dikuasainya.
Ketika peradaban di pedalaman Jawa berkembang, juga secara bersamaan telah berkembang lebih maju peradaban di wilayah lainnya seperti India yang kemudian mempengaruhi peradaban di Jawa dengan masuknya agama Hindu dan Buddha.Sesuai dengan catatan dari prasasti dan catatan lainnya, sampai dengan periode Majapahit maka maka kerajaan di Jawa dapat digambarkan sebagai berikut:

Pada periode Jawa Tengah ini, kerajaan Mataram kuna berada di pedalaman Jawa Tengah. Dan dalam periode selama 198 tahun tersebut kerajaan Mataram diperintah oleh 17 raja atau penguasa, mulai dari Sanjaya (732-746), kemudian diganti Rakai Panamkaran (746784), Rakai Panunggalan (784-803), Rakai Warak (803-827) dan seterusnya kemudian penguasa yang terakhir Rakai Pangkaja Dyah Wawa (928-929).
Sedang periode Jawa Timur, kerajaan ini berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan nama tetap Mataram dengan ibu kota di Tamwlang3 karena berbagai sebab, salah satunya adalah adanya bencana meletusnya gunung berapi yang maha dasyat. Untuk periode khususnya periode kerajaan Tamwlang-Kahuripan inilah kondisinya paling sedikit memberi keterangan raja-raja yang memerintah serta lamanya. Terbatasnya informasi ini akibat dari sedikitnya prasasti yang dikeluarkan pada masa periode ini. Oleh sebab itu dalam jangka waktu 122 tahun hanya tercatat lima saja raja yang memerintah karena sedikitnya informasi.
Untuk periode Tamwlang-Kahuripan ini raja pertama yang memerintah adalah Rake Halu Pu Sindok (929-948), Isanatunggawijaya (tidak ada data), Makuawangsawarddhana (tidak ada data), Sri Darmawangsa Tguh (996-1016 ?), Dharmawangsa Airlangga (10211042).4 Pada masa pemerintahan Sri Darmawangsa Tguh, kalau dalam buku Sejarah Kabupaten Madiun5 raja Sri Darmawangsa Tguh memerintah dari 987-1017. Berbeda awal memerintah dengan pendapat Supratikno Rahardjo yang berpendapat Sri Darmawangsa Tguh memerintah 996-1016 dan perbedaan angka tahun inilah seperti yang saya sampaikan di atas karena terbatasnya sumber.
Namun kalau mengikuti periode pemerintahan Sri Darmawangsa Tguh tahun 987-1017, maka prasasti Sendang Kamal yang berangka tahun 9926 diperkirakan dikeluarkan pada pemerintahan penguasa ini. Dan prasasti sendang kamal ini juga sudah dicatat oleh Thomas Stamford Raffles yang menulis dalam bukunya yang termasyur,“Catatanku dimulai dari arah barat. Aku harus menjelaskan empat monumen yang ada di Madiun, atau batu-batu prasasti: batu-batu ini dengan beberapa alas dan bekas-bekas bangunan kuna telah dikumpulkan dan dikerjakan di Maospati, ibu kota Madiun, dan terakhir dilakukan Raden Ranggo, yang kita tahu dia memberontak terhadap istana Yogyakarta. Pada bagian terbesar dari monumen ini adalah karakter dari prasasti yang masih mempunyai tingkat perbedaan besar, dan saya harus berhati-hati dalam mengartikannya. Bagian lain yang lebih kecil, karakterkarakternya, walaupun mudah dipahami, tetapi banyak yang terhapus oleh kerusakan dan hilang substansinya untuk dibuat salinannya.”
Dengan demikian, pada masa penjajahan Inggris di Indonesia, Raffles sudah mencatat dalam catatan yang kemudian dibukukan dalam buku yang sangat tebal yang diberi judul The History of Java. Adapun isi dari prasasti ini menurut sumber yang lain, merupakan kutipan dari kitab Shiwasana. Suatu kitab undang-undang hukum yang mengatur kehidupan kenegaraan dan masyarakat menurut pandangan ajaran Hindu Shiwaisme. Diperingatkan kepada manusia agar selalu taat setia melakukan kewajibannya Tri Dharma Bhakti berbakti kepada Shiwa Mahadewa, negara dan pemerintah serta masyarakat termasuk kebaktian untuk keluarga. Ditambahkan agar sumber air yang terdapat di situ sebagai lambang kehidupan untuk dapat didayagunakan sebaik-baiknya bagi usaha menciptakan kemakmuran serta kesejahteraan. Prasasti ditutup dengan suatu harapan agar selalu dijunjung tinggi maksud dan atau isi yang diundangkan sebagai perintah raja.
Dari sini nampak, bahwa dengan adanya prasasti Sendang Kamal wilayah ini merupakan daerah penting ketika masa Mataram Kuna periode pemerintahan Sri Darmawangsa Tguh. Bahkan mungkin juga sebelum dan sesudahnya sampai akhir kerajaan Majapahit terbukti dengan masih adanya beberapa prasasti yang ditemukan seperti prasasti Mruwak di Kecamatan Dagangan yang dibuat akhir abad IX, prasasti Bibrik di Kecamatan Jiwan yang dibuat akhir abad XV (akhir Majapahit), demikian juga prasasti Klagen Serut Kecamatan Jiwan juga dibuat masa akhir Majapahit seusia prasasti Bibrik.
Maospati Mulai Mencatatkan Sejarah
Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, Kerajaan Mataram Islam pecah lahir kemudian raja baru Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta, sedang di Surakarta dipimpin seorang raja Paku Buwono III.9 Akibat perjanjian Giyanti tersebut wilayah kerajaan masing-masing menjadi sangat kecil, dan untuk memberi hadiah kepada kerabat kerajaan maka untuk wilayah di sekitar Madiun dibagi menjadi beberapa kadipaten yang wilayahnya diantaranya sebagai berikut:
Surakarta Yogyakarta
1. Caruban. 1. Madiun.
2. Gendingan. 2. Magetan.
3. Ponorogo. 3. Maospati.
4. Arjowinangun . 4. Keniten.
5. Sumoroto. 5. Tunggul Wonokerto.
6. Pedanten. 6. Banget.
7. Palangan. 7. Purwodadi.
8. Pacitan. 8. Genengan.
9. Pungul. 9. Nguneng.
10. Soroh.
Dan setelah berakhirnya perlawanan (pemberontakan oleh Mangkubumi) dengan Perjanjian Giyanti atau Palihan Negari (Pembagian Kerajaan) yang berlangsung selama 12 tahun pada tahun 1755, wilayah Madiun saat itu dipimpin oleh Pangeran Mangkudipuro, yang konon merupakan keturunan salah seorang pangeran dari Surakarta. Namun, setelah wilayah Madiun disatukan dengan Yogyakarta, penguasa wilayah tersebut menolak mengakui Sultan sebagai penguasa tertingginya. Sebaliknya, ia tetap menganggap dirinya sebagai bawahan Susuhunan Surakarta (Pakubuwono II). Sikap yang ia tunjukkan melalui tindakan nyata, seperti menolak memberikan penghormatan kepada Sultan saat beliau naik takhta.
Tentu saja Sultan HB I sangat tidak berkenan dengan hal ini, dan kemudian memerintahkan adik iparnya, mantan panglima pasukan Raden Prawirodirdjo (yang juga dikenal sebagai Raden Ronggo) yang saat itu menjabat sebagai Bupati Radjekwesi, sebuah wilayah yang mencakup Kabupaten Bojonegoro saat ini, untuk menyingkirkan Bupati Madiun Pangeran Mangkudipuro dan kemudian mengambil alih jabatan Bupati Madiun. Menjalankan perintah tersebut, Raden Prawirodirdjo berangkat dengan pasukan yang terdiri dari beberapa ribu prajurit.
Sedang versi lain Kiai Raden Ronggo Wirosentiko (1720-1784) kemudian ketika Perjanjian Giyanti bergelar Raden Tumenggung Prawirodirjo dan selanjutnya sekitar 17601784 diangkat sebagai bupati wedana (kepala bupati) Mancanegara Negara Timur berkedudukan di Madiun dengan gelar Raden Ronggo Prawirodirjo I. Ketika Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Madiun masih dipegang Pangeran Mangkudipuro diperintahkan oleh Sultan HB I untuk memerangi dan menagkap bupati pembangkang dari Sawo tidak berhasil. Pangeran Mangkudipuro pulang mendapat luka tombak di punggungnya. Sultan HB I sangat marah, luka tersebut menandakan bahwa bupati melarikan diri dari musuh. Pada akhirnya Sultan menurunkan jabatannya dan dipindahkan ke Caruban.
Raden Ronggo Prawirodirjo I wafat pada tahun 1784 digantikan putranya Raden Ronggo Prawirodirjo II yang menjabat 1784-1790. Namun yang paling terkenal adalah penggantinya yaitu Raden Ronggo Prawirodirjo III yang menjabat 1796-1810. Dan pada tahun 1801 memindahkan kadipaten ke Maospati. Dengan pemindahan pemerintahan di Maospati maka Maospati menjadi pusat pemerintahan Mancanegara Negara Timur. Pemindahan pusat pemerintahan ini didasarkan saran ahli nujum kepadanya. Dan atas ramalan ahli nujum tersebut dikatakan bahwa kelak Raden Ronggo Prawirodirjo III diramalkan akan menjadi raja.
Sebagai menantu Sultan HB II, sekaligus penasehat politik Sultan tidak mengherankan kalau Raden Ronggo Prawirodirjo III lebih banyak berdiam di Yogyakarta.13 Namun Raden Ronggo memerintahkan memindahkan ibu kota kadipaten ke Maospati. Tentu saja dengan Maospati sebagai pusat pemerintahan Manca Negara Timur menjadi hidup dan ramai. Apalagi letak Maospati sangat strategis, mudah diakses pada persimpangan Madiun, Ponorogo, Magetan dan Ngawi.
Salah satu keluarga Raden Ronggo Prawirodirjo III yaitu Panji Suryoatmojo yang berdiam di tempat sesuai namanya Surohatmajan yang sekarang menjadi Desa Suratmajan. Dan Panji Suryoatmojo memiliki pandai besi yang melayani kebutuhan Raden Ronggo Prawirodirjo III. Para pandai besi besi itu dulu bertempat tinggal yang sekarang disebut Desa Pandean. Selain itu daerah yang Bernama Irokraman, Kromoiranan, dan Endrowijayan adalah tempat tinggal para mantri yang bekerja untuk Raden Ronggo Prawirodirjo III. Sedang tempat tinggal para pekerja pembuat keris yang disebut mranggi bertempat tinggal di desa yang sekarang disebut Desa Mranggen.
Taj Mahal dan Makam Maduretno di Gunung Bancak.
Apa ada hubungannya Taj Mahal dengan Gunung Bancak. Yang satu ada di kota Agra India dan yang satu di Kabupaten Magetan. Yang satu merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia. Gunung Bancak bisa jadi hanya masyarakat Magetan yang tahu. Lantas apa hubungannya. Hubungan angsung tentu tidak ada. Namun semangat yang melatar belakangi keduanya, menarik untuk ditarik benang merah.
Kita semua pasti tahu Taj Mahal. Salah satu bangunan yang terindah yang pernah diciptakan manusia. Sebuah bangunan makam yang indah didedikasikan raja kepada istri tercinta yang telah meninggal dunia. Shah Jahan, raja di kerajaan Mughal India yang mulai memerintah tahun 1628 sangat mencintai istrinya yang jelita Mumtaz Mahal.
Pada waktu sang raja memerintah, kerajaan mencapai puncak kekuasaan. Namun kekuasaan tidak dapat menghilangkan takdir, ketika sang istri tercinta kemudian meninggal dunia saat melahirkan pada tahun 1631. Sebagai bentuk rasa cintanya, dibuatlah makam istrinya yang indah dan belum pernah ada di dunia.
Dalam membuat makam, Shah Jahan kemudian mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya. Tidak kurang dari 20 ribu pemahat terkenal di India, Turki, Irak didatangkan. Marmer putih yang indah, penuh dengan lengkungan, menjadikan sebuah bangunan indah yang dibangun dengan penuh ketekunan, ketelitian yang demikian tinggi. Dan di dalamnya dipahat kaligrafi ayat-ayat suci Al Quran.
Namun sayangnya, sang raja kekuasaannya berakhir sangat tragis. Di akhir hidupnya justru sudah tidak berkuasa lagi. Yang menurunkan justru anaknya sendiri Aurangzeb merebut tahta dari ayahnya. Dan kemudian ayahnya sendiri dipenjarakannya di Benteng Merah Agra. Sang ayah Shah Jahan, hanya meminta agar kamar tahanannya dihadapkan ke Taj Mahal, dengan harapan agar setiap saat dapat memandang makam istri tercintanya.
Lalu apa yang ada di Gunung Bancak Kabupaten Magetan. Gunung Bancak terletak di Kecamatan Kawedanan. Sebelah Selatan Pabrik Gula Rejosari. Gunung yang tidak terlalu tinggi. Bahkan bisa dikatakan sebuah bukit. Bukit yang sangat jelas bila dipandang dari Kecamatan Maospati.
Di puncak bukit itulah, terletak makam GBRAy Maduretno bersama sang suami KPAA Ronggo Prawirodirjo III. GBRAy Maduretno putri dari Sri Sultan Hamungkubuwono II. Sedang ibunya GKR Kedhaton, merupakan putri dari Bupati Magetan KRA Purwodiningrat. Ronggo Prawirodirjo III adalah Bupati Madiun yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Maospati (1796-1810). Sebagai menantu Sri Sultan Hamengkubuwono II, beliau juga diangkat sebagai Bupati Wedana Mancanegara. Yang diberikan kekuasaan sebagai koordinator bupati sebelah Timur Gunung Lawu yang menjadi kekuasaan Kasultanan Jogyakarta. Selain jabatan sebagai Bupati Wedana Mancanegara, juga sebagai penasehat politik Sultan.
Pada masa pemerintahannya inilah kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Wonosari sebelah Utara Madiun ke Maospati. Di istananya Maospati Raden Ronggo Prawirodirjo III kemudian tinggal bersama saudara-saudaranya sendiri, juga diikuti sentana dalem seperti Panji Nantangyudo, Panji Ukeng, Panji Leleyan, Panji Jekitut, Panji Suryoatmojo. Dengan pemindahan kadipaten, tentu menjadikan wilayah Maospati menjadi sangat ramai dan maju.
Kadipaten Maospati kemudian dibangun dengan megah dikelilingi tembok batu merah. Bahkan kemudian dipasang Meriam. Sehingga menjadi pusat pemerintahan sekaligus sebagai benteng pertahanan. Raden Ronggo juga menciptakan iklim keagamaan di Maospati. Terbukti, pada masa pemerintahannya, didatangkan ulama dari Sunda Nuryemangi untuk memberikan pemahaman agama Islam bagi penduduk.
Yang membedakan dengan pangeran yang lain, Raden Ronggo sangat anti Belanda. Ketika Gubernur Jenderal Daendels akan membangun kekuatan militernya, utamanya membuat kapal perang, maka memerlukan kayu jati yang berkualitas tinggi. Dan kayu-kayu jati itu berada di wilayah kekuasaannya. Kemudian hutan-hutan jati sebagai sumber daya kraton ingin dikuasai Belanda.
Dari situlah timbul kebencian semakin memuncak kepada pemerintah Belanda. Sehingga Raden Ronggo dianggap musuh Belanda juga menjadi musuh karena intrik-intrik yang terjadi antara Raden Ronggo dengan Patih Danurejo II ditambah perselisihannya dengan Bupati yang menjadi wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Yang pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwono II harus merelakan tekanan Belanda, yang mengharuskan menantunya Raden Ronggo harus dihadapkan kepada Gubernur Jenderal di Bogor. Yang itu artinya Belanda meminta kematiannya.
Dari pada dibuang, atau diracun maka Raden Ronggo kemudian memberontak. Bupati Brang Wetan banyak yang memihak kepada Raden Ronggo. Bahkan kemudian Raden Ronggo kemudian menyatakan sebagai Sunan Ingalogo dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Ingalogo yang bertahta di kutha Pethik (nama lain Maospati). Segera raden Ronggo menyusun kekuatan di Maospati disokong para bupati pengikutnya.
Namun yang tragis justru, Sri Sultan sendiri yang memberi ulmatum agar Raden Ronggo segera ditangkap dan kemudian dibunuh. Dan pada akhirnya, Raden Ronggo tewas di Sekaran tepi Bengawan Solo pada tanggal 20 Nopember 1810 dalam peperangan yang sudah diskenario. Kemudian jenazahnya dibawa ke Jogyakarta. Dan diletakkan di keranda terbuka serta digantung di persimpangan jalan Pangurakan dekat gardu alun-alun Utara. Pada akhirnya jenazah dimakamkan di makam para pengkhianat kraton di Banyusumurup, Bantul Jogyakarta.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX makam Raden Ronggo diperintahkan untuk dipindahkan ke Gunung Bancak berdampingan dengan makam istri tercinta di Gunung Bancak. Pemindahan makam ini setelah makam Raden Ronggo ada di Banyusumurup selama 157 tahun.
Yang lebih tragis, pada tahun 1809 sebelum menyatakan angkat senjata melawan Belanda, permaisuri yang dicintainya GBRAy Maduretno meninggal dunia karena kunduran (saat melahirkan). Dan sengaja jenazah istri tercinta dimakamkan di Gunung Bancak. Salah satu pertimbangannya, agar raden Ronggo setiap saat bisa memandang makam istri tercintanya dari istana kadipaten di Maospati.
Dari sinilah, relasi Taj Mahal dan Gunung Bancak. Kedua makam, merupakan makam istri tercinta yang sengaja dibangun sang suami untuk mengenang istri tercinta. Dan kedua makam dibangun di tempat yang strategis sehingga sang suami setiap saat bisa memandang makam istri tercinta dari tempatnya.
Dan keduanya, Shah Jahan dan Raden Ronggo harus rela menghadapi kematian dengan tragis. Shah Jahan harus meninggal dalam tahanan putranya sendiri. Sedang Raden Ronggo harus terbunuh atas perintah mertuanya sendiri. Namun yang perlu dicatat, pada akhirnya kedua makam tersebut, bisa menjadi simbol kecintaan suami kepada istri yang sangat dicintainya. Sejak Raden Ronggo Prawirodirjo terbunuh, Kraton di Maospati dibakar Belanda dan diratakan dengan tanah serta manuskrip, harta benda dijarah. Sejak itu peran Maospati mulai surut.
Pabrik Gula dan Perang Jawa
Kalau kita melihat sejarah perkembangan pabrik gula di Indonesia, masuknya pabrik gula di wilayah pedalaman Jawa sangat amat lama. Seperti di Magetan saja berdirinya pabrik gula memerlukan hampir seratus tahun kemudian setelah pembangunan pabrik gula di Batavia dan pesisir utara Jawa. Utamanya yang telah dibangun saat itu di daerah Cirebon dan Pekalongan.
Pabrik gula di Purwodadi didirikan tahun 1832 setelah Perang Jawa. Tepat setelah Perang Jawa itulah Letnan Jenderal J. van den Bosch, yang mulai memimpin pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 16 Januari 1830, sebelumnya telah menyusun rencana di Belanda untuk menerapkan sistem yang kemudian dikenal dengan namanya yaitu Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel)—yang telah disetujui oleh Raja.
Prinsip-prinsip dasar Sistem Tanam Paksa ini, khususnya terkait dengan budidaya tebu, adalah sebagai berikut. Penduduk diwajibkan menyerahkan sebagian lahan mereka (yang awalnya direncanakan sebesar seperlima bagian) untuk ditanami komoditas yang ditujukan bagi pasar Eropa, sesuai dengan hak penguasa untuk mengatur penggunaan lahan dan tenaga kerja mereka. Kontrak akan dibuat dengan pihak swasta untuk pengolahan bahan mentah, baik berupa tebu maupun nira tebu.
Pemerintah telah lama merasakan manisnya industri gula. Bayangkan di tahun 1750 saja di Jawa sudah ada 100 pabrik gula. Paling banyak dan berpusat di Batavia. Bahkan mencapai 80 buah. Sedang sisanya tersebar dipelbagai tempat. Utamanya di Banten, Cirebon dan pantai Utara Jawa Tengah. Sedang di Jawa Timur dan daerah Jawa pedalaman belum ada.
Pabrik gula semakin banyak bermunculan setelah selesainya Perang Jawa. Pangeran Diponegoro memimpin perang Jawa 1825-1830. Perang Jawa telah membuat menderita Belanda. Juga tentu saja juga rakyat. Ada lebih dari 200.000 rakyat jadi korban. Tentara Belanda sendiri tidak kurang 8000 yang mati terbunuh. Dan serdadu Belanda keturunan pribumi 7000 juga ikut terbunuh.
Dan Perang Jawa telah menguras begitu banyak kas Belanda. Biaya dari Perang Jawa saja telah menghabiskan f 20.000.000 (dua puluh juta gulden). Sebuah angka yang sangat besar waktu itu. Tak mengherankan bila pemerintah Belanda hampir bangkrut untuk membiayai Perang Jawa.
Defisit yang parah akibat Perang Jawa mengakibatkan Belanda mengambil kebijakan bagaimana mengembalikan keuangan agar sehat kembali. Johannes van Den Boch sebagai Gubernur Jenderal kemudian menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Sebuah sistem yang menekankan pada petani untuk menanam khusus tanaman ekspor.
Tanam paksa mewajibkan 20 persen tanah yang dimiliki petani untuk diserahkan kepada pemerintah untuk ditanam komoditas ekspor seperti rempah-rempah, tembakau, kopi, the, dan tebu. Sebagai gantinya penduduk diberi upah sebesar selisih antara sewa tanah dan nilai produk serta dibebaskan dari pajak tanah.
Bagi penduduk yang tidak memiliki tanah, diwajibkan bekerja selama 75 hari dalam setahun di pabrik-pabrik perkebunan pemerintah. Tentu kebijakan ini sangat memberatkan rakyat. Lahan pangan berubah menjadi lahan perkebunan. Rakyat kelaparan. Harga hasil produksi perkebunan ditentukan Belanda. Model tanam paksa ini justru lebih kejam dari kebijakan VOC sebelumnya. Dari model ini pemerintah Belanda berhasil memperolah pemasukan pada kas sebanyak f 967 juta (gulden).
Sistem tanam paksa dihentikan tahun 1870. Banyaknya kritik justru datang dari para aktivis dari bangsa Belanda sendiri, membuat pemerintah menghentikannya. Politik etis yang kemudian diterapkannya seperti untuk menebus kesewenang-wenangan yang dilakukan dalam sistem tanam paksa.
Sebagai ganti, diterapkan sistem liberal. Pengusaha diberikan keleluasaan menanam modal dalam sektor ini. Bermunculan kemudian industri gula sampai di pedalaman Jawa. Di seluruh Jawa muncul pabrik gula. Karena manisnya industri ini, sampai Kasultanan Jogyakarta juga mendirikan pabrik gula. Berkembangnya industri gula di wilayah kasultanan di masa HB VII ada 17 pabrik gula.
Tak mau kalah, juga Pura Mangkunegara mendirikan pabrik gula untuk mengisi kas pemerintahannya. Pabrik gula Colomadu merupakan pabrik milik Pura Mangkunagara. Sebuah pabrik yang didirikan tahun 1862. Manisnya industri gula diabadikan nama pabrik, colomadu artinya gunung madu.
Tak mengherankan bila di masa ini, Hindia Belanda menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Pada awal abad 20 di Hindia Belanda saja sudah ada 187 pabrik gula. Industri gula dikelola dengan sangat baik. Mulai dari cara tanam maupun pengolahannya. Sehingga menghasilkan gula kualitas baik dengan rendemen yang baik. Ketika itu rendemen rata-rata mencapai 14.
Saat ini di tahun 2022 di Magetan luas lahan tebu diperkirakan seluas 6.058 ha, menghasilkan sekitar 402.256 ton. Luasan tanaman tebu untu eks Karesidenan Madiun, justru Magetan paling luas. Hasilnya, untuk bahan baku dua pabrik gula di Magetan sudah lebih. Bahkan kelebihan produksi tebu petani dibawa ke pabrik di luar Magetan. Namun sayang rendemen tebu sekarang jauh dari masa keemasan Belanda dulu. Saat ini separonya saja tidak sampai.
Pabrik gula di Magetan bahkan di Indonesia semakin tua. Peremajaan mesin agar efisien memerlukan investasi yang sangat besar. Pabrik Gula Purwodadi didirikan pada era tanam paksa. Dua tahun setelah Perang Jawa. Pabrik Gula Rejosari didirikan. Dan pabrik gula Purwadadi sejak dihapuskan tanam paksa telah memberikan dampak ekonomi pada masyarakat sekitar termasuk Maospati. Perputaran uang dengan hadirnya pabrik tersebut menjadikan Maospati hidup secara ekonomi. Namun kedua era tersebut akhirnya telah menjadi saksi manisnya industri gula.
Namun sayangnya justru di era kemerdekaan, ketika semua kita kelola sendiri, yang menentukan kita sendiri dan semakin banyak orang pintar di negeri ini, mengapa hasilnya tidak semanis dulu. Pabrik gula pernah berjaya. Dan yang jelas pabrik gula Purwodadi pernah memberi rasa manisnya masyarakat Maospati.
Perkembangan Sosial Ekonomi Maospati
Setelah Perang Jawa keadaan Pulau Jawa hancur. Penduduk berkurang dan ekonomi porak poranda. Disusul kemudian lahir tanam paksa yeng menyengsarakan rakyat di Hindia Belanda. Rakyat dipaksa untuk menanam komoditas yang laku di pasar internasional khususnya Eropa. Tentu saja akibat peneritaan rakyat akibat tanam paksa ini angka kematian menjadi sangat tinggi.
Di beberapa daerah angka kematian demikian tinggi. Di Semarang saja antara bulan Oktober 1849 sampai bulan Maret 1850 tidak kurang dari 10.000 orang mati kelaparan. Sedang di Demak mulai tahun 1848-1850 telah mati kelaparan sebanyak 120.000 orang. Bahkan di Grobogan dari penduduk berjumlah 98.000 orang yang mati kelaparan 9.000 orang.
Di Jawa Tengah dan Timur penduduk telah sangat banyak berkurang sebagai akibat dari kesengsaraan, makanan yang tidak mencukupi, serta wabah penyakit yang datang. Di masa ini Cirebon juga 60.000 jiwa, Tegal 18.000 jiwa, Pekalongan 20.000 jiwa, Jepara 65.000 jiwa, Begelen 95.000 jiwa, Banyumas 82.000 jiwa, Madiun 14.000 jiwa. Dan seluruhnya mencapai 354.000 jiwa. Keuntungan pemerintah berlipat-lipat dari sistem tanam paksa. Namun bagi rakyat akibatnya sangat buruk. Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mencuat di Belanda setelah ditulis oleh penulis Multatuli (nama asli Eduard Douwes Dekker) dalam novelnya “Max Havelaar”. Penderitaan ini mendorong tuntutan dihapuskannya Tanam Paksa dan menjalankan Politik Etis atau Politik Balas Budi yang berusaha meningkatkan pendidikan dan kondisi kehidupan penduduk asli. Hal tersebut menjadi salah satu alasan dan juga latar belakang dihapuskannya sistem tanam oleh Belanda. Sistem Tanam Paksa dihapus secara bertahap dengan menghentikan penanaman terhadap jenis-jenis tanaman tertentu, misalnya tanaman lada dihapus pada 1862, tanaman teh dihapus pada 1865, tanaman tembakau dihapus pada 1866, tanaman tebu dihapus pada 1870, tanaman kopi di Priangan dihapus pada 1917. Dan pada akhirnya secara resmi Sistem Tanam Paksa dihapus pada tahun 1870 dan diganti dengan Sistem Ekonomi Liberal.
Pabrik gula mulai juga mulai berubah, dengan lebih memberi dampak ekonomi kepada masyarakat sekitarnya. Keberadaan pabrik gula Purwodadi dan Rejosari tentu saja memberi dampak ekonomi yang cukup penting bagi perkembangan Maospati. Perputaran uang di wilayah Maospati mulai hidup.
Kondisi dihapuskannya tanam paksa inilah kemudian lahir politik etis yang kemudian pemerintah Hindia Belanda banyak mendirikan sekolah dan lebih banyak dari pada sebelumnya untuk memperhatikan rakyatnya. Selain sekolah dokter Jawa dibuka, sekolahsekolah umum juga dibuka. Salah satu hasilnya semakin besarnya angka melek huruf di kalangan masyarakat. Sebagai contoh data berikut:
Tabel 1 Prosentase Tingkat Melek Huruf
Abad 19.

Dari data tersebut di atas, angka melek huruf di akhir abad 19 sudah ada peningkatan setelah adanya sekolah-sekolah di desa. Di Magetan, angka tertinggi justru terjadi di Distrik Maospati. Tentu saja angka ini cukup mencengangkan. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa Magetan yang merupakan ibu kota afdeeling waktu itu malahan kalah dengan Maospati. Dan Maospati malahan lebih tenggi dengan distrik yang ada di Madiun.
Banyak faktor tentu saja, mengapa angka melek huruf Maospati lebih baik dibandingkan Magetan. Kita tahu kota Magetan waktu itu merupakan salah satu kota yang agak sulit mendapatkan akses di bandingkan Maospati. Distrik Maospati merupakan tepat persilangan mobilitas yang akan ke Ponorogo, Madiun, Ngawi, Solo, Yogyakarta atau Madi uterus ke timur Surabaya. Tentu saja dipersilangan tersebut akan memudahkan mobilitas masyarakat yang akan merubah cara pandang masyarakatnya. Selain itu masyarakat Maospati lebih mudah bila akan berpegian jauh, karena sudah ada stasiun kereta api. Untuk kelas jarak pendek cukup naik/turun di stasiun Barat (sekarang stasiun Magetan).
Tak mengherankan bila saat itu ekonomi Maospati betul-betul berkembang. Banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal menetap di Maospati. Dulu kanan-kiri jalan raya Maospati dipenuhi dengan toko-toko Tionghoa. Kondisi ini tentu saja menunjukkan berkembangnya ekonomi di Maospati.21 Dan banyak sekali masyarakat Tionghoa yang hidupnya makmur ketika itu, sehingga sering muncul berita di koran terkait segala aktivitasnya.
Dengan banyaknya masyarakat Tionghoa di Maospati, segala aktivitasnya juga dimuat di koran Djawi Kando saat itu. Salah satu berita yang dimuat menunjukkan gaya hidup masyarakat Tionghoa yang makmur. Bayangkan persembahan di Klenteng dengan makanan yang berlimpah. Tentu saja secara teoritik media cetak itu isinya merupakan wajah dari masyarakatnya. Dengan sering diberitakannya Maospati di media cetak masa itu, tentu daerah tersebut memiliki peran yang cukup penting baik secara sosial, ekonomi dan politik. Adapun berita koran Djawi Kando tanggal 18 April 1899 yang terbit di Surakarta dengan bahasa Melayu pasaran dan tulisan Jawa sebagai berikut:
Maospati Dengen Hoermat!
Djikaloe mendjadiken toewankoe ampoenja soeka dan ringngan atie toeloenglah sedikit tempat di toewankoe ampoenja halaman. Dj. K. dan sakblomnja saia membilang banjak trima kasih di atas toewankoe ampoenju kamoerahan atie. Maka di dalem districht Maospati afdeeling Magettan, perkoepoelan bangsa oang tjina jang sama sembajang di delem Gredja tjina alijas Klenteng, ija itoe jang djadi lotjoenja babah Tan Kian-in, maka ini kabetoelan sembajangnja ari 2 boelan “Sagwik, ari Blanda 11-4-1899 dari saia ampoenja timbangan slamanja di Maospati ada perkoempoelan, sembajang di Gredja tjina tiada saperti ini-taoen dari banjaknja Koewih jang di bikin sembajang di Gredja itoe, kira kira tida koerang dari 100 piring koewih, maka pengngadatan ada orang bangsja tjina jang soedah kedjalannan kapan sembajang di Gredja tjina koewihnja tiada lebih dari 15 op 20 piring soedah temtoe sadja ini tahoen baniak koewih en boewah boewahnja, orang njonjah Tan Lasjem jang bikin koewih dan toeroet atoer tjoba lamnja njonjah Tan Lasjem jang bikin itoe koewih dan jang atoer ini sahingga tida bisa radjin dan tiada ada koewihnja moedah moedahan, poendennja Gredja tjina dotek kong di Maospati soepaja kaboelken njonjah Tan Lasem pandjang oesjea dan slamet tiada koerang stoe apa apa, Kabarnja itoe mjonjah Tan Lasem bisa djadi doekoen doekoennja orang bangsa tjina djikaloek ada orang bangsa tjana di Maospati jang dapet sakit lantas mentak pertoeloenganja njonjah Tun Lasem nistjaja lantas bisa djadi baik asal djngan tskdrinja toewan jang mapa koewasja sadja dia sanggoep kesih obat moesti baiknja apa lagi itoe njonjah Tan Lasem djikaloe kasih obat orang jang depet sakit tiada mahoe di kasih petoewas mendjadi soedeh satoe tanda kapan itoe njonjah Tan asen djalani baik atinja kepan tjara tiinanja tiohosim djangen besoek ada kerat dapet siksasa—adanja. SAJA POENJA TABE DARI BAH ODOT ALIJAS KOELTOEK BENGOEK2
Dan begitu banyaknya masyarakat yang hidupnya makmur, tentu diperlukan tempat rekreasi yang memadai. Juga tak mengherankan kemudian ada kritik dan masukan dari media untuk memperbaiki obyek wisata yang sangat potensial ketika itu yaitu Sendang Kamal. Dan Sendang Kamal sumber airnya ketika itu masih melimpah ruah. Sangat sayang kalau tidak dikelola dengan baik. Masukan dan kritik terhadap kondisi Sendang Kamal tersebut dimuat pada koran berbahasa Belanda De Locomotief yang isinya,” Tempat pemandian Omboel terus menarik banyak pengunjung, terutama setelah para kusir kereta kuda menurunkan tarif mereka; banyak orang berpendapat sebaiknya tidak berkunjung pada hari Minggu karena tempat itu selalu ramai dan semua ruangan terisi bahkan ada orang yang menginap di sana hingga berminggu-minggu. Terdapat pula tempat pemandian lain bernama Sendang Kamal, jika dikembangkan dengan cara yang sama seperti Omboel, tempat itu pastinya juga akan ramai dikunjungi. Dan tentu saja tulisan ini juga dapat dipahami, masyarakat Maospati yang makmur itu sudah semesti sudah harus memiliki tempat wisata yang memadai.
Kemakmuran masyarakat Maospati secara ekonomi, juga bisa dilihat dari jumlah penduduk yang mendiami wilayah ini. Dibandingkan dengan dengan wilayah distrik lain di Magetan, Maospati dan Keniten memiliki jumlah penduduk yang diukur dari jumlah rumah tangga yang paling besar. Bahkan dibandingkan distrik di Madiun, Maospati dan Keniten masih memiliki jumlah pendudukan yang paling besar.
Tabel 2 Luas Wilayah, Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk
Afdeelingen Madiun dan Magetan tahun 1880-1890

Secara jumlah penduduk Maospati dan Keniten masih kalah dengan Caruban. Namun perlu diingat luas wilayah Caruban jauh lebih banyak dibandingkan dengan Maospati. Wilayah Caruban luasnya tiga kali lipat dibandingkan dengan Maospati dan Keniten. Sedang Keniten lebih banyak penduduknya karena luas wilayah yang juga lebih luas dibandingkan Maospati. Selain luas wilayah juga tanah sawahnya juga jauh lebih luas dibandingkan dengan Maospati.
Tabel 3 Sawah dan Tegalan
Afdeelingen Madiun dan Magetan 1890-1903


Kalau dibandingkan, mengapa penduduk Keniten lebih banyak dari Maospati. Selain tanahnya lebih luas juga tanah sawahnya jauh lebih luas dibandingkan Maospati. Bahkan luas tanah sawah Keniten hampir dua kali lipat dari luas tanah sawah Maospati. Dengan luasnya tanah sawah tersebut maka dalam mengolah pertanian tenaga yang banyak, sedang saat itu pengolahan pertanian belum menggunakan mekanisasi dan masih tradisional. Dengan demikian wajar kalau penduduknya sedikit lebih banyak.
Berbeda dengan Maospati, tanah sawahnya lebih kecil dan justru tanah tegalan lebih luas. Kita tahu tanah tegalan waktu itu barus bisa ditanami kalau musim hujan setahun sekali sehingga tidak terlalu banyak memerlukan tenaga kerja. Oleh sebab itulah masyarakat Maospati dapat diduga kalau dulu banyak yang bergerak di sektor jasa.
Maospati di Era Pasca Kemerdekaan dan Pemerintahan Sukarno.
Setelah masa Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Maospati juga terkena dampak dari lahirnya revolusi tersebut. Seluruh masyarakat bahu membahu untuk ikut mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih tersebut. Hanya sayang sekali bersamaan dengan bangsa kita menghadapi Belanda yang berusaha menjajah kembali, kemudian terjadi Peristiwa Madiun 1948.
Peristiwa Madiun tanggal 18 September 1948 tersebut telah menimbulkan luka yang sangat dalam. Aksi FDR/PKI langsung menyerbu kantor-kantor pemerintah seperti polres, depo militer, kabupaten, kecamatan, kelurahan, serta menahahan tokoh-tokoh masyarakat sangat menodai perjalanan bangsa yang ini. Dalam waktu singkat, Madiun, Magetan Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Blora, Pati, Cepu dan Kudus telah dikuasai oleh kelompok tersebut. Bupati, patih, wedana, kepala polisi, tentara, jaksa, guru, kiai serta tokoh masyarakat digiring ke suatu tempat kemudian dibunuh.
Setelah mendapat ultimatum pemerintah di Yogyakarta dan gerakan PKI dapat ditumpas, pada tahun 1950 kita memperoleh kedaulatan kembali sesuai sistem pemerintahan yang kita inginkan setelah melalui peperangan dan perjalanan perundingan yang sangat berliku. Sejak itulah pemerintah mulai bisa menata tata pemerintahan yang semakin dengan berbagai dinamikanya.
Demikian juga Maospati, sejak itu juga mulai merasakan dampaknya ketika pemerintahan Sukarno membangun kekuatan militernya. Dampak dari perang dingin, pemerintahan Sukarno disertai konfrontasi dengan Belanda persoalan Irian Barat dan Malaysia lebih condong ke Uni Soviet dan Cina dibandingkan dengan ke Amerika Serikat. Pada masa bulan madu hubungan Indonesia dengan Uni Soviet dan Cina, Indonesia memiliki kekuatan militer yang sangat kuat, utamanya kekuatan udara dan lautnya.
Pembangunan kekuatan udara dengan bantuan Uni Soviet, Maospati terkena dampak sosial, ekonomi dan politiknya. Keberadaan pangkalan udara utama Iswahyudi28 saat itu yang berada di Maospati dibangun secara besar-besaran. Sarana-prasarana fisik dibangun, demikian juga sumber daya manusia ditingkatkan. Banyak para pilot, teknisi dari Indonesia dikirim ke Uni Soviet dalam rangka menguasai teknologi bantuan militer dari Uni Soviet. Demikian juga sebaliknya, banyak pilot dan teknisi Uni Soviet dikirim ke Lanud Iswahyudi.
Mesin perang mulai berdatangan di Maospati. Mulai senjata penangkis serangan udara, radar, amunisi, bom, pesawat canggih seperti Mikoyan Guerevitch (MiG) 16, 17, 19, 21 juga datang. Yang lebih hebat lagi juga hadir pesawat pembom Tupolev (TU) yang sangat ditakuti waktu perang dingin saat itu. Dengan pembangunan Angkatan udara bantuan Uni Soviet saat itu tak heran kalau ada yang mengatakan kalau kekuatan militer Indonesia saat itu merupakan salah satu yang terkuat di Asia. Akibatnya Belanda jadi ciut nyalinya, sehingga bisa berunding menyelesaikan masalah Irian Barat (Papua).
Dengan pembangunan Angkatan udara di Maospoti saat itu, dampak ekonomi sangat hidup. Siang malam pesawat tempur dan pembom tempur memenuhi langit Maospati dalam rangka latihan. Kendaraan militer buatan Uni Soviet juga banyak lalu-lalang di Maospati. Kereta api yang membawa tangka bahan bakar pesawat (avtur) ke pangkalan juga ikut meramaikan Maospati. Bahkan sehari bisa lewat tiga kali. Restoran-restoran bermunculan di pinggir jalan raya Maospati. Setiap makan siang dan malam restoran banyak dipenuhi oleh para teknisi dari Uni Soviet.
Kondisi berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat ketika Meletus peristiwa G30S/PKI dan Sukarno turun diganti Suharto (jenderal AD) sebagai penguasa Orde Baru. Banyak kemudian para petinggi TNI AU yang dituduh terlibat gerakan tersebut.29 Bantuan Uni Soviet berhenti total. Mesin perang bantuan Uni Soviet lumpuh total karena tiadanya suku cadang. Mesin perang yang dulunya canggih lama-lama menjadi barang besi tua yang menjadi saksi sejarah kejayaannya.
Akibat lainnya, Maospati juga seperti terhenti ekonominya. Bayangkan denyut Iswahyudi yang demikian aktif tiba-tiba berhenti. Sampai-sampai pada awal Orde Baru Iswahyudi seperti tidak ada aktivitas sama sekali, karena pesawat tempur tidak ada yang bisa terbang lagi. Sampai-sampai karena tidak ada aktivitas yang signifikan, pernah landasan pesawat Lanud Iswahyudi digunakan sebagai lomba balap sepeda motor yang saat itu motor Jepang mulai digandrungi masyarakat Indonesia.
Maospati di Era Suharto
Pada awal pemerintahan Suharto, dengan terhentinya aktivitas pesawat tempur militer di Iswahyudi seperti menghentikan ekonomi di Maospati. Sebelumnya aktivitas ekonomi yang tumbuh dengan keberadaan pesawat canggih pada masanya, sampai juga tumbuhnya tempat remang-remang di Maospati. Tumbuhnya komplek prostitusi “mBaben”30 tidak bisa dilepaskan dari geliat ekonomi di wilayah Maospati saat itu.
Lepas dari kesulitan ekonomi akibat tiadanya aktivitas di Iswahyudi, kemudian masyarakat berinisiatif mengembangkan industri rumahan salah satu yang menonjol industri krupuk beras. Industri rumahan ini sangat menghidupkan ekonomi di Maospati. Tumbuhnya industri ini juga ikut menumbuhkan kebutuhan untuk menopang keperluan industri krupuk beras. Tumbuh toko yang berjualan minyak goreng, garam, kayu bakar. Juga tenaga kerja dari daerah sekitar banyak berdatangan di Maospati. Kalau malam hari banyak warung-warung makan buka dipenuhi dengan pembeli. Demikian juga kalau waktu pagi hari, banyak warung buka menjual sarapan pagi.
Tidak hanya itu, karena ekonomi Maospati hidup, banyak datang pengamen tradisional yang datang mulai pengamen group musik keroncong, pengemis bahkan tempat prostitusi “mBaben” juga semakin ramai. Juga muncul perusahaan otobis yang memiliki armada bis cukup banyak. Salah satu cirinya di badan bis dilukis tokoh-tokoh wayang kulit. Dan letak perusahaannya di Jalan Barat Maospati.
Baru kemudian di tahun 1973, pemerintah Indonesia menerima bantuan pesawat Avon Sabre bekas dari pemerintah Australia. Dan pesawat bekas ini juga datang tanpa senjata alias tumpul. Tentu saja kondisinya jauh dari modern dibandingkan dengan pesawat MiG buatan Uni Soviet yang telah dimiliki sebelumnya. Namun mau apa dikata, setidaknya para penerbang tempur TNI AU masih memiliki pesawat untuk memelihara ketrampilan terbangnya.
Namun sayang sekali, industri krupuk beras berangsur-angsur mati. Demikian juga perusahaan otobis waktu itu juga mati. Di susul dengan semakin salah kelola dan salah dalam pembuat kebijakan di industri pabrik gula menjadikan industri gula semakin terpuruk. Ekonomi masyarakat Maospati seperti jatuh bertubi-tubi. Apalagi bertambahnya penduduk yang semakin banyak, diikuti kepemilikan lahan rata-rata semakin sempit, tentu sektor pertanian juga tidak terlalu banyak diharapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maospati.
Ekononomi masyarakat Maospati betul-betul seperti terhenti. Dan perputaran uang juga semakin lambat, karena lebih banyak mengharapkan belanja dari para pegawai yang hanya sebulan sekali. Perkembangan ekonomi masyarakat Maospati pada akhirnya kalah dengan Kecamatan Barat maupun Gorang Gareng di mana kedua daerah tersebut ditopang oleh lahan pertanian yang relatif subur.
Lahirnya reformasi, dan pemberian otonomi luas memberikan dampak yang bagus dalam pengelolaan keuangan daerah. Berbagai bentuk transfer keuangan pemerintah pusat ke daerah terus bertambah. Kalau dulu, jaman Orde Baru uang banyak berputar di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya (terjadi urbanisasi besar-besaran) saat ini relatif lebih merata. Tentu saja ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat Maospati.
Namun sayangnya, dibandingkan dengan dengan kabupaten lain dan daerah lainnya, Maospati perkembangannya juga relatif lambat. Oleh sebab itulah diperlukan sebuah pemantik, atau pengungkit yang bisa membawa perubahan sosial ekonomi di Maospati. Kalau tidak, Maospati yang dulunya menjadi barometer kemajuan di Magetan akan kalah dengan daerah lainnya.
Maospati Menatap Masa Depan.
Di dunia ini ada empat tipe negara. Satu, negara kaya rakyatnya juga kaya. Seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, Australia, Cina dan sebagainya. Negara-negara tersebut memiliki sumber daya alam yang melimpah, pemerintahnya juga amanah, sumber daya alam tersebut dikelola dengan baik, sehingga negara kaya rakyatnya juga kaya.Kedua, negara miskin rakyatnya juga miskin. Negara ini sumber daya alamnya tidak punya, pemerintahnya juga tidak amanah banyak praktik korupsi akibatnya negara miskin rakyatnya juga miskin. Sebagai contoh Somalia, Congo dan beberapa negara-negara di Afrika. Ketiga, menurut saya ini unik. Negara miskin tetapi rakyatnya kaya. Negara tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi justru rakyatnya kaya. Contohnya Jepang, Singapura, Korea Selatan dan lainnya adalah termasuk negara maju dan rakyatnya makmur. Mengapa bisa terjadi, karena faktor sumber daya manusia yang unggul. Keempat, negara kaya tetapi rakyatnya miskin. Negara memiliki sumber daya melimpah karena tidak dikelola dengan baik, maka rakyatnya tetap miskin.
Kita bisa belajar, mengapa ada negara miskin tetapi rakyatnya kaya. Salah satu jawabannya adalah karena sumber daya manusia. Singapura tidak memiliki sumber daya alam apa-apa, tetapi sumber daya manusianya luar biasa unggul. Demikian juga Korea Selatan dan Jepang. Negara ini memiliki sumber daya yang unggul karena memiliki pendidikan tinggi yang unggul pula. Universitas di Singapura, Korea Selatan, Jepang masuk universitas paling top di dunia. Dampaknya tentu dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di negara tersebut.
Di skala lebih kecil kita bisa belajar dari Yogyakarta. Dulu sebelum kemerdekaan dan awal kemerdekaan, wilayah Yogyakarta rakyatnya banyak yang miskin. Bahkan dulu yang Namanya gizi buruk banyak sekali terjadi di Yogyakarta. Dan sudah takdir Tuhan, waktu itu Yogyakarta dipimpin oleh seorang raja yang visioner dan berpendidikan barat. Ketika ibu kota RI dipindah ke Yogyakarta, Sultan ikut menggagas berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM). Universitas negeri pertama yang didirikan oleh pemerintah RI. Bahkan kampus yang dipakai pertama sementara menggunakan asset kraton. Tidak hanya itu, tanah kraton sekarang banyak dipakai kampus.
Akibat yang terjadi, berdirinya kampus UGM menarik pemuda-pemudi terbaik seluruh Indonesia belajar ke Yogyakarta. Kemudian tidak hanya UGM, bermunculan kemudian kampus-kampus negeri dan swasta lainnya. Dengan berkumpulnya putra-putri terbaik bangsa di Yogyakarta tentu membawa akibat kemajuan Yogyakarta seperti sekarang ini. Majunya Yogyakarta dalam segala hal saat ini bukan semata-mata jerih payah putra-putri Yogyakarta asli, tetapi sangat ditopang putra-putri unggul dari segala penjuru yang berkumpul di Yogyakarta.
Kalau dianalogikan, mengapa madiun, Magetan dan sekitarnya sejak dulu relatif lambat perkembangnnya. Salah satu jawabannya karena tidak terdapat universitas negeri yang unggul dan maju. Kita juga bisa belajar dari Malang, Jember, Banyuwangi, Purwokerto, Surakarta. Kota-kota ini maju dengan lebih pesat karena adanya universitas negeri yang mulai tumbuh besar. Berbagai sumber daya unggul mulai berdatangan dan menetap di kota tersebut.
Belajar dari hal tersebut, Magetan kalau ingin cepat perkembangannya juga harus memiliki universitas negeri. Yang jelas, ketika ide menghadirkan kampus universitas negeri di Magetan, muncul pula ketidaksetujuan gagasan itu direalisasikan. Bahkan anggota dewan pun banyak yang tidak setuju. Pengalaman saya waktu itu, undangan yang dilayangkan waktu pertemuan awal saja tidak ada yang hadir. Dan MoU yang dilaksanakan tanggal 28 November 2020 di Kampus Unesa hanya dihadiri seorang wakil ketua, itu pun karena memang partai pengusung pemerintah.
Setelah dilakukan penelitian dan survei oleh tim Unesa, dipilih Maospati sebagai kampusnya. Salah satu pertimbangannya Maospati gampang diakses dari mana-mana. Dalam istilah tim Unesa Maospati merupakan daerah melting. Langkah selanjutnya Pemda Magetan menghibahkan tanah meniru Sutan HB IX. Puluhan jurusan dan program studi mulai menerima mahasiswa. Tanggal 20-23 Agustus 2024 sebanyak 1050 mahasiswa baru Unesa kampus Magetan melaksanakan Orientasi mahasiswa baru. Setiap tahun akan bertambah. Salah satu gedung megah, dari master plan yang telah dibuat sudah siap digunakan. Tentu saja nantinya akan segera bertambah fasilitas-fasilitas lainnya, seperti fasilitas olahraga, laboratorium, ruang kuliah, ruang terbuka dsb. Dan segala aktivitas di Unesa akan memiliki multiplier effect luar biasa.
Dari segi ekonomi saja, saat baru pertama mahasiswa baru masuk, sekitar 600 orang memerlukan tempat pemondokan. Saat ini telah tumbuh banyak sekali tempat pemondokan di sekitar kampus, baik di desa Sempol, Mranggen, Maospati dan Kraton. Belum semakin ramainya usaha warung makan, café, foto copi, laundry dll. Kehidupan Maospati akan semakin berdenyut. Dan yang paling penting keberadaan Unesa akan memberi efek positif terhadap peningkatan kualitas SDM seperti Yogyakarta.
Penutup
Tidak ada sebuah tulisan yang sempurna tentunya, kecuali kitab suci. Belajar dari situlah tulisan ini disampaikan, yang diniati untuk mencoba mencatat dan merekam sebatas yang saya kuasai dan ketahui. Dengan mencatat, suatu saat kalau Maospati itu menjadi sebuah kota yang maju atau malah sebaliknya kita bisa belajar. Dengan demikian kita dapat mewariskan apa pun yang dapat kita wariskan walaupun catatan buruk sekalipun. Nuwun.
Oleh: Suprawoto



