Senin, 19 Januari 2026
BerandaWisataLabuhan Sarangan 2026: Harmoni Tradisi dan Pariwisata dalam Balutan Warisan Budaya Tak...

Labuhan Sarangan 2026: Harmoni Tradisi dan Pariwisata dalam Balutan Warisan Budaya Tak Benda

-

Magetan,seputarjatim.co.id– Kawasan wisata Telaga Sarangan kembali berbalut suasana khidmat dan meriah pada Jumat (16/1/2026). Ribuan warga bersama wisatawan memadati tepian telaga untuk menyaksikan Labuhan Sarangan, sebuah tradisi turun-temurun yang kini telah resmi menyandang status sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional.

Prosesi tahunan yang digelar ini merupakan simbol rasa syukur masyarakat Kelurahan Sarangan kepada Allah SWT atas segala limpahan berkah. Tak sekadar seremoni, acara ini juga menjadi ruang doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga di kaki Gunung Lawu.

Kegiatan telah dimulai sejak Kamis (15/1) melalui serangkaian ritual adat dan doa lintas generasi. Puncaknya, pada Jumat pagi, suasana semakin semarak dengan adanya kirab budaya yang menampilkan kekayaan seni lokal. Penampilan tari-tarian dari siswa-siswi tingkat SD dan SMP turut menambah warna dalam perhelatan tahun ini.

Momentum paling sakral terjadi saat Bupati Magetan, Nanik Sumantri, bersama jajaran pimpinan daerah menaiki perahu menuju tengah Telaga Sarangan. Di sana, prosesi larung sesaji dilakukan dengan penuh kekhusyukan, diiringi doa-doa yang dipanjatkan oleh tokoh adat setempat.

Bupati Nanik Sumantri menegaskan bahwa Labuhan Sarangan memiliki nilai spiritualitas yang dalam, yakni mengajarkan gotong royong dan kepedulian terhadap alam.

“Kami ingin tradisi ini menjadi tuntunan hidup bagi generasi muda, bukan hanya sekadar tontonan. Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, komitmen kami adalah memastikan pariwisata Magetan tumbuh berkelanjutan tanpa menghilangkan kesakralan adatnya,” ujar Bupati Nanik.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Magetan, Joko Trihono, menjelaskan bahwa Labuhan Sarangan adalah dari tradisi Bersih Desa yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Saat ini, pemerintah daerah mengemasnya dalam balutan Festival Sarangan untuk meningkatkan daya tarik wisata.

“Tradisi ini asli milik warga Sarangan, bukan replika. Kami sangat bersyukur karena setelah melalui proses sidang di Kementerian Kebudayaan, Labuhan Sarangan kini sah diakui sebagai WBTB. Harapannya, tradisi ini semakin ‘ngeremboko’ (berkembang) dan bisa masuk dalam kalender event nasional,” ungkap Joko.

Di sisi lain, Joko Trihono juga memberikan catatan penting terkait pengembangan pariwisata. Ia menekankan pentingnya penerapan Sapta Pesona bagi seluruh pelaku usaha di kawasan Sarangan.

Melalui Labuhan Sarangan, Pemkab Magetan berharap sektor ekonomi kerakyatan terus bergerak beriringan dengan pelestarian nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri masyarakat Magetan.(ryn)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti

Berita Terbaru