Magetan,seputarjatim.co.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magetan bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase di kawasan depan kantor Samsat hingga sejumlah titik rawan lainnya. Langkah ini diambil menyusul terjadinya banjir luapan yang sempat mengganggu akses publik pada momentum menjelang Lebaran lalu.

Kepala DPUPR Magetan, Muhtar Wakid, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim teknis untuk melakukan pemetaan udara menggunakan drone. Langkah ini dilakukan guna mendapatkan gambaran presisi mengenai topografi dan hambatan saluran secara visual. Tak hanya itu, DPUPR juga memperkuat koordinasi lintas sektoral bersama bidang Bina Marga, Sumber Daya Air (SDA), dan Cipta Karya.
Berdasarkan hasil penyisiran lapangan yang mencakup wilayah Terung, Baron, hingga Sukomoro, tim menemukan bahwa persoalan utama terletak pada tingginya debit air dari kawasan tangkapan (catchment area).
“Kami mengevaluasi mulai dari hulu hingga saluran yang ada. Kesimpulan sementara, solusi utamanya adalah mengurangi beban volume air dari wilayah atas agar tidak seluruhnya tumpah ke bawah,” ujar Muhtar Wakid,Selasa(31/03/2026).
Ia menyoroti maraknya alih fungsi lahan di wilayah Terung yang memicu tingginya run-off atau limpasan air hujan. Tanah yang seharusnya meresap air kini berganti menjadi permukaan kedap air, sehingga debit air yang mengalir ke saluran drainase melonjak drastis.
Untuk mengatasi masalah ini, DPUPR telah menyusun rencana teknis pembagian arus air, Aliran air dari Srogo akan dipecah. Sebagian dibuang ke arah Kali Ndoyo di sisi selatan, sementara akses saluran dari Srogo ke utara akan dibenahi guna mengurangi beban di wilayah Kebaran.
Selain itu juga ditemukan pendangkalan hebat akibat sedimentasi. Hal inilah yang menyebabkan air meluap melampaui tanggul dan membanjiri jalanan di depan Samsat.
Sebagai langkah konkret dalam sepekan ke depan, DPUPR akan melakukan normalisasi saluran. Muhtar telah menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi dengan pemilik lahan di sepanjang kiri dan kanan saluran antara Kebaran hingga Samsat.
“Saluran akan kita pengeruk, dan sedimennya diletakkan di samping sebagai tanggul darurat. Namun, tanggul saja tidak cukup. Untuk jangka menengah, akan kita perkuat dengan konstruksi bronjong agar material tanah tidak kembali larut dan menjadi sedimen lagi,” imbuhnya.
Mengingat skala kerusakan dan kebutuhan infrastruktur yang cukup masif, DPUPR saat ini tengah melakukan penghitungan mendalam terkait kebutuhan anggaran untuk masing-masing solusi teknis yang ditawarkan.
Di sisi lain, Muhtar Wakid memberikan catatan khusus bagi para pengembang perumahan di Magetan. Ia menegaskan bahwa perubahan tata guna lahan sangat memengaruhi perilaku air. Ia berharap setiap komplek perumahan memiliki sistem resapan yang memadai.
“Kami sangat berharap setiap perumahan memiliki sumur resapan atau biopori. Tujuannya agar air hujan tidak semuanya langsung tumpah ke area bawah, sehingga beban drainase kota tetap terkendali,” pungkasnya.(ryn)



