Magetan,seputarjatim.co.id – Rentetan bencana tanah longsor yang menerjang kawasan Wisata Telaga Sarangan pada Kamis (15/1) dan Sabtu (17/1) memicu reaksi keras dari kalangan legislatif. Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan, Diana Sasa, secara resmi mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan untuk mengambil langkah darurat yang lebih konkret daripada sekadar memberikan imbauan.
Diana Sasa menegaskan bahwa keselamatan nyawa warga maupun wisatawan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan kondisi geografis Sarangan yang rentan, ia mengusulkan pembentukan Satgasus Sarangan Aman.
Menurut Sasa, Satgasus ini harus beroperasi penuh selama 24 jam selama puncak musim penghujan. Satuan tugas ini diharapkan menjadi pusat komando terpadu yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, PUPR, Dinas Perhubungan, TNI/Polri, hingga sektor kesehatan dan relawan setempat.
“Kita butuh komando lapangan yang tegas dan terukur. Satgasus ini harus memiliki mandat untuk mengambil keputusan cepat di lokasi, bukan sekadar menunggu instruksi dari atas setelah kejadian susulan muncul,” ujar Diana Sasa saat memberikan keterangan pada Sabtu (17/1/2026).
Satgasus memiliki tugas utama meliputi:
Asesmen Cepat: Mendeteksi dini retakan tanah dan kemiringan lereng.
Siaga Personel: Penempatan petugas di titik-titik kritis yang rawan longsor.
Mitigasi Jalur: Penyiapan rute evakuasi, rambu darurat, dan penerangan jalan yang memadai.
Layanan Medis: Memastikan ambulans dan tim medis (PSC 119) siap sedia untuk penanganan darurat.
Selain pembentukan Satgasus, politisi PDI Perjuangan ini juga meminta adanya regulasi ketat mengenai akses jalan. Ia mendorong pemberlakuan sistem buka-tutup jalur di segmen rawan longsor, terutama saat intensitas hujan meningkat tajam.
“Kebijakan buka-tutup ini bukan bertujuan melumpuhkan ekonomi warga, melainkan untuk menjamin keamanan aktivitas wisata. Lebih baik kita mencegah jatuhnya korban daripada menyesal kemudian karena memaksakan jalur tetap dibuka di tengah risiko tinggi,” tegasnya.
Sasa menekankan agar penutupan jalur dilakukan secara fisik menggunakan barrier, serta diumumkan secara transparan kepada publik mengenai jadwal dan rute alternatifnya.
Langkah jangka pendek lain yang diusulkan adalah melakukan audit total terhadap saluran drainase di area lereng serta pembersihan material longsor secara intensif. Area publik atau lokasi pedagang yang berada tepat di bawah tebing rawan pun diminta untuk dikosongkan sementara hingga situasi dinyatakan stabil.
Guna memastikan transparansi, Diana Sasa juga menuntut adanya laporan harian dari Pemkab yang bisa diakses oleh masyarakat luas terkait status jalur dan perkembangan penanganan bencana. Melalui Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Magetan, ia menyatakan siap mengawal koordinasi lintas OPD demi penguatan mitigasi ini.
Di akhir pernyataannya, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat dan pengunjung Telaga Sarangan untuk tetap waspada dan segera melaporkan jika melihat tanda-tanda alam yang mencurigakan, seperti pohon miring atau rembesan air baru di lereng, dan melaporkan melalui kanal resmi BPBD atau PSC 119 jika terjadi keadaan darurat.(ryn)



